Pendekar Humoris, Wa Kepoh, dan Dunia yang Dibangun oleh Suara
Ganjar Harimansyah

Pagi-pagi, sekitar pukul enam, seorang pengojek telah menunggu di depan rumah Yayat Rukhiyat (Yat R.). Ia bukan menjemput penumpang. Ia menunggu sepuluh lembar naskah yang harus segera dibawa kepada Ahmad Sutisna, pendongeng yang lebih dikenal dengan nama Wa Kepoh. Naskah itu akan disiarkan pada hari yang sama. Yayat menyebut cara kerja di tahun 1991-an itu dengan istilah yang sekarang: kejar tayang. Setiap hari cerita mesti bergerak, tokoh harus menghadapi masalah baru, dan pendengar perlu diberi alasan untuk kembali memasang telinga pada episode berikutnya.
Sepuluh lembar itu kemudian berubah menjadi kampung, hutan, perguruan silat, gerombolan perampok, pertarungan, tawa, dan ketegangan. Wa Kepoh menghidupkan semuanya melalui satu tubuh. Suaranya menjelma menjadi laki-laki dewasa, perempuan, anak-anak, orang tua, pendekar, perampok, dan manusia-manusia jenaka yang menyela ketegangan. Dari kerja senyap antara penulis dan pendongeng itulah lahir salah satu tokoh paling fenomenal dalam sejarah dongeng radio Sunda: Si Rawing.
Kisah Yayat, Wa Kepoh, dan Si Rawing yang dipaparkan di https://www.broadcastmagz.com/ (2014) tersebut mengingatkan kita bahwa dunia cerita tidak selalu memerlukan mata agar dapat terlihat. Kadang-kadang sebuah dunia justru tampak lebih luas ketika ia hanya diperdengarkan.
Dongeng yang Memiliki Pengarang
Sebutan โdongeng Sundaโ yang melekat pada Si Rawing perlu dipahami sesuai dengan tradisi penyiaran di Jawa Barat. Dalam pengertian folkloristik, dongeng biasanya merujuk pada cerita yang hidup secara kolektif, diwariskan lintas generasi, memiliki banyak versi, dan sering kali tidak diketahui penciptanya. Si Rawing berbeda. Cerita ini memiliki pengarang yang jelas, disusun untuk penyiaran, dikembangkan dalam sejumlah episode, serta dibangun melalui hubungan antara naskah tertulis dan pertunjukan suara.
Yayat Rukhiyat telah menulis cerita berbahasa Sunda untuk radio sejak 1980. Naskah Si Rawing ditulis pada 1991 dan kemudian mencapai popularitas luas di Jawa Barat. Sebelum menjadi penulis, Yayat pernah bekerja sebagai penyiar dan pendongeng. Ia terbiasa mengarang cerita secara langsung tanpa naskah, suatu cara yang dalam praktik mendongeng Sunda dikenal dengan istilah ditambulโyang arti harfiahnya ialah โaktivitas memakan lauk pauk atau camilan (seperti sayuran, gorengan, atau kerupuk) saja tanpa menggunakan nasiโ. Kesadaran akan pentingnya dokumentasi mendorongnya beralih ke penulisan. Cerita yang semula lahir seketika dalam pertunjukan suara mulai memperoleh bentuk tertulis dan dapat disampaikan oleh pendongeng lain (Broadcastmagz, 2014).
Perpindahan dari cerita spontan menuju naskah tidak menghilangkan sifat kelisanannya. Naskah baru mencapai bentuk utuh ketika dibacakan, diperankan, diberi irama, dan diterima pendengar. Falconi dan Graber menjelaskan bahwa sastra lisan selalu terbentuk melalui hubungan antara teks, pelaku, khalayak, dan konteks pertunjukan. Penceritaan juga mempertemukan tradisi dengan pembaruan. Setiap penuturan kembali membawa jejak versi sebelumnya sembari melahirkan makna yang sesuai dengan keadaan baru (Falconi dan Graber, 2019: 1โ18).
Dalam kerangka itu, Si Rawing dapat dipahami sebagai sastra populer bersuara yang menggunakan modus mendongeng. Yayat menciptakan bangunan naratifnya. Wa Kepoh mengubah bangunan tersebut menjadi pengalaman auditif. Pendengar melengkapinya melalui imajinasi masing-masing. Kepengarangan cerita tetap berada pada Yayat, sedangkan kehidupan Si Rawing dalam ingatan publik terbentuk melalui penciptaan yang berlapis.
Ketika Satu Suara Menjadi Banyak Tubuh
Radio sering dipandang sebagai media yang kekurangan gambar. Pandangan tersebut berangkat dari kebiasaan menempatkan penglihatan sebagai ukuran utama kelengkapan pengalaman. Radio justru memperoleh kekuatannya dari bagian yang dianggap kurang itu. Ketiadaan gambar membuka ruang bagi pendengar untuk membangun gambar sendiri.
Hand dan Traynor menyebut suara sebagai jalan menuju imajinasi. Efek bunyi, ucapan, musik, dan kesunyian dapat menghadirkan ruang yang jauh lebih luas daripada lokasi fisik tempat pertunjukan berlangsung. Suara juga mampu membangkitkan anamnesis, yakni kemunculan kembali ingatan dan suasana masa lalu melalui pengalaman mendengar (Hand dan Traynor, 2011:3โ5). Radio bekerja di antara suara yang disiarkan dan ingatan yang telah berada di dalam diri pendengar.
Kemampuan Wa Kepoh memainkan beragam karakter menjadi pusat kekuatan Si Rawing. Perbedaan tokoh hadir melalui warna suara, pilihan intonasi, kecepatan bicara, tekanan, jeda, dan cara tertawa. Pendengar mengenali siapa yang sedang berbicara tanpa harus diberi penjelasan panjang. Suara menjadi penanda usia, watak, kedudukan sosial, keberanian, kelicikan, serta kepolosan. Wa Kepoh seolah membangun suatu sistem pemeranan auditif.
Yayat memahami kemampuan tersebut dan memasukkannya ke dalam strategi penulisan. Ia sengaja menghadirkan tokoh laki-laki dan perempuan dalam setiap segmen agar Wa Kepoh memiliki ruang untuk mengubah suara dan menghidupkan perbedaan karakter. Pergantian suara menciptakan variasi, mempercepat irama, dan menjaga perhatian pendengar. Tokoh tidak diperkenalkan melalui uraian penampilan fisik. Mereka hadir pertama-tama sebagai suara yang memiliki kepribadian.
Teddern dan Warburton (2016:31โ35) menyebut pendengar radio sebagai โaudiens tunggalโ. Siaran dapat menjangkau ribuan orang, tetapi suara radio terasa seakan-akan berbicara langsung kepada seorang pendengar. Keintiman itu semakin kuat karena pendengar ikut mengisi ruang yang sengaja dibiarkan kosong. Penulis memberikan isyarat, pendongeng menciptakan bunyi, dan pendengar menyelesaikan gambar mentalnya.
Wa Kepoh tidak sekadar membacakan kisah. Ia mengatur jarak antara tokoh dan pendengar. Bisikan dapat membawa seseorang masuk ke ruang rahasia. Teriakan memperlebar medan perkelahian. Tawa mengubah ancaman menjadi kelucuan. Jeda membuat pendengar menunggu gerakan berikutnya. Dalam penceritaan semacam itu, suara menjalankan fungsi yang dalam film dibagi kepada pemain, kamera, penyuntingan, tata artistik, dan pencahayaan.
Luka yang Menjadi Nama
Darma, tokoh utama cerita, berasal dari Kampung Jatisari di Sumedang. Ayahnya, Wikarta, memimpin perguruan silat Cula Badak Putih. Kehidupan keluarga itu hancur ketika gerombolan Bah Bewok menyerang kampung. Wikarta terbunuh, Ningsih diculik, dan Darma terluka pada telinganya ketika berusaha menyelamatkan ibunya. Telinga yang sobek membuatnya kelak disebut Si Rawing. Ia diselamatkan, diasuh, kemudian berguru kepada Ki Debleng hingga tumbuh menjadi pendekar.
Luka tersebut memiliki kedudukan lebih penting daripada ciri fisik. Luka menghapus nama lama dan melahirkan identitas baru. Darma berubah menjadi Si Rawing ketika pengalaman personalnya bersentuhan dengan kekerasan dunia. Nama itu menyimpan kehilangan ayah, perampasan ibu, kehancuran rumah, dan ketidakberdayaan seorang anak. Jalan kependekarannya bermula dari tubuh yang pernah gagal melindungi orang-orang terdekatnya.
Pola ini lazim ditemukan dalam cerita kepahlawanan: bencana mengeluarkan tokoh dari kehidupan biasa, seorang guru membentuk kemampuannya, lalu perjalanan menghadapkan tokoh kepada sumber penderitaannya. Si Rawing memberi pola tersebut warna lokal melalui perguruan silat, kehidupan kampung, hubungan guru dan murid, dunia karaman, serta bahasa Sunda sebagai bahasa pengalaman.
Cerita kemudian berkembang melewati penyelesaian dendam. Si Rawing menjadi dewasa, menikah, memiliki anak, dan berhadapan dengan akibat dari konflik generasi sebelumnya. Si Keling, anaknya, diculik dan dibentuk melalui doktrin pembalasan. Pertemuan ayah dan anak menempatkan Si Rawing dalam kedudukan yang dahulu ditempati orang tuanya: seorang manusia yang harus menghadapi kekerasan yang diwariskan. Alur berlanjut kepada Jaka Sinangling dan Nang Bule, cucu Si Rawing. Kisah kependekaran berubah menjadi kisah tentang pewarisan luka, ilmu, tanggung jawab, dan kebijaksanaan (Hermawan, Darmawan dan Qomaruzzaman, 2024: 93โ97).
Perkembangan tersebut membuat Si Rawing lebih menarik daripada pendekar yang terus-menerus mengalahkan lawan. Ia bertambah tua. Hubungannya dengan orang lain berubah. Kemenangan fisik tidak selalu menyelesaikan persoalan. Pada tahap tertentu, lawan terberatnya berada di dalam diri: amarah, keinginan membalas, rasa kehilangan, dan keterikatan pada keperkasaan. Perjalanan Si Rawing bergerak dari penguasaan jurus menuju penguasaan diri.
Paradoksnya terasa indah. Tokoh yang memperoleh nama karena luka pada telinganya justru memperoleh kehidupan paling panjang di telinga para pendengar.
Silat, Humor, dan Tata Dunia Sunda
Yayat membangun ilmu silat Si Rawing dari berbagai sumber. Ia membaca Mahabharata, Ramayana, komik, novel, cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo, buku filsafat, dan bacaan mengenai agama. Ia juga menyimak cerita orang-orang tua tentang kanuragan dan persilatan. Semua bahan itu diolah menjadi dunia baru. Si Rawing lahir melalui proses pertemuan antarteks, ingatan, pengalaman mendengar, dan daya cipta pengarang.
Salah satu hasilnya terlihat pada ilmu silat Ulin Karuhunan Ki Debleng yang terdiri atas tujuh jurus. Setiap jurus dihubungkan dengan hari dan lambang alam: mega, bunga, api, daun, angin, air, serta tanah. Lambang itu kemudian diterjemahkan menjadi sifat gerakan. Api menghadirkan panas; angin melahirkan kecepatan; air bergerak perlahan dengan daya meluluhkan; tanah menjadi dasar keteguhan. Rangkaian tersebut sebaiknya dibaca sebagai sistem simbolik ciptaan Yayat, bukan catatan etnografis mengenai satu tradisi silat Sunda yang baku.
Cara penciptaan itu memperlihatkan kerja sastra populer yang menarik. Pengarang mengambil unsur-unsur yang dikenal masyarakat, menyusunnya kembali, lalu membangun kesan bahwa dunia rekaan memiliki sejarah panjang. Pembaca atau pendengar tidak memerlukan uraian teoritis tentang kosmologi. Hubungan antara hari, alam, tubuh, dan jurus telah menyampaikan gagasan bahwa kekuatan manusia bergantung pada kemampuannya membaca watak kehidupan.
Pandangan hidup dalam Si Rawing berkembang bersama perjalanan tokohnya. Wawancara dengan Yayat memperlihatkan perhatiannya pada hubungan manusia dengan Tuhan, alam, karuhun, dan sesama. Penghormatan kepada karuhun dipahaminya sebagai kesadaran akan asal-usul. Welas asih ditempatkan sebagai dasar hubungan kemanusiaan. Kesaktian memperoleh nilai ketika disertai konsistensi antara pemahaman dan laku lampah. Kebaikan bukan ucapan, melainkan tindakan yang terus dijalankan (Hermawan, Darmawan dan Qomaruzzaman, 2024: 94โ97).
Gagasan tersebut tidak disampaikan sebagai khotbah yang berdiri di luar cerita. Ia melekat pada pilihan tokoh, hubungan guru dan murid, pertentangan antara kesaktian dan kebijaksanaan, serta akibat yang diterima manusia dari tindakannya. Dunia persilatan menjadi ruang pengujian moral. Jurus dapat mengalahkan musuh, sedangkan kemanusiaan menentukan penggunaan kemenangan itu.
Humor menjaga dunia tersebut agar tidak berubah menjadi ruang pengajaran yang kaku. Corak ngabodor dalam pembawaan Wa Kepoh memberi napas di antara pertarungan dan penderitaan. Tokoh perkasa dapat terlihat lucu. Orang tua yang bijaksana mungkin memiliki kebiasaan menggelikan. Percakapan sehari-hari menyela ancaman besar. Humor membuat para pendekar tetap berpijak pada dunia manusia.
Kelucuan juga menciptakan tata rasa yang khas. Keberanian tidak harus selalu hadir dalam wajah tegang. Kearifan dapat disampaikan melalui permainan kata. Kritik terhadap kesombongan lebih mudah diterima ketika muncul lewat tokoh yang mengundang tawa. Dalam konteks tersebut, ngabodor bukan hiasan. Humor menjadi cara cerita menjaga keseimbangan antara keperkasaan dan kerendahan hati.
Bahasa Sunda sebagai Ruang Akustik
Radio mempunyai kemampuan membentuk komunitas melalui bahasa. Pinkerton menjelaskan bahwa sifat lisan radio memungkinkannya mengikat komunitas bahasa melampaui batas wilayah resmi. Radio dapat menjangkau khalayak luas sekaligus mempertahankan keintiman komunikasi. Pendengar berada di tempat berbeda, tetapi mereka mendiami โdunia radioโ yang sama (Pinkerton, 2019:36โ42).
Si Rawing membangun dunia semacam itu dalam bahasa Sunda. Kesundaan cerita tidak berhenti pada latar Sumedang, nama perguruan, atau istilah silat. Ia hidup dalam irama kalimat, bentuk sapaan, perubahan tingkat tutur, permainan bunyi, peribahasa, kelucuan, dan cara tokoh menyatakan emosi. Bahasa tidak sekadar menyampaikan cerita. Bahasa membentuk udara yang dihirup seluruh tokohnya.
Di sinilah sumbangan dongeng radio terhadap kehidupan bahasa daerah memperoleh makna. Pemertahanan bahasa sering dibicarakan melalui jumlah penutur, pengajaran di sekolah, kamus, atau dokumentasi. Semua itu penting. Bahasa juga memerlukan ruang yang membuat orang menunggu, tertawa, takut, dan penasaran di dalamnya. Si Rawing membuat bahasa Sunda hadir sebagai pengalaman yang menyenangkan dan berkesan. Pendengar kembali pada episode berikutnya karena ingin mengetahui nasib tokoh. Dalam proses itu, mereka terus bersentuhan dengan kosakata, ungkapan, dan tata rasa Sunda.
Kajian mengenai pendongeng Sunda menempatkan Wa Kepoh dalam jajaran pelaku budaya yang memperluas jangkauan tradisi tutur melalui radio. Kemampuannya memerankan banyak karakter membuat cerita terasa seperti dihuni oleh sejumlah pemain, meskipun seluruhnya berasal dari satu suara (Marliana, Permana dan Mukarrom, 2025: 238โ240). Radio menjadikan bahasa Sunda suatu ruang akustik: orang dapat masuk ke dalamnya hanya dengan mendengar.
Ketika Pendekar Memperoleh Wajah
Popularitas Si Rawing menarik perhatian perfilman. Catatan perfilman memperlihatkan adanya tiga produksi. Film pertama, Si Rawing (1991), disutradarai Denny H.W. dan menempatkan E.K. Soemadinata sebagai Darma atau Si Rawing. Tokoh itu kemudian dimainkan Barry Prima dalam Si Rawing II: Pilih Tanding (1993) dan Jurus Dewa Kobra: Si Rawing III (1994). Pembedaan ini penting karena sejumlah tulisan populer menyebut Barry Prima seolah-olah menjadi pemeran Si Rawing sejak film pertama.
Perpindahan ke layar menghasilkan perubahan mendasar. Pendengar radio bebas membayangkan wajah Si Rawing, bentuk tubuh Ki Debleng, kegelapan hutan, atau keluasan gelanggang. Film harus memilih satu wujud. Pilihan tersebut memberikan kepastian visual, sekaligus menutup kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya hidup di benak pendengar.
Yayat menilai versi layar terlalu serius jika dibandingkan dengan corak ngabodor versi radio. Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan adaptasi tidak terletak pada keberadaan gambar. Persoalannya berada pada tata rasa yang berubah. Film dapat memindahkan peristiwa, nama tokoh, dan rangkaian pertarungan. Jiwa cerita menuntut penerjemahan irama, kedekatan, serta humor yang dibentuk oleh hubungan antara suara dan pendengar.
Radio membuat pendengar berada di dalam proses penciptaan. Film memberikan dunia yang telah diwujudkan di hadapan penonton. Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa ketenaran sebuah cerita radio tidak selalu berpindah utuh ke layar. Setiap pendengar telah memiliki Si Rawingnya sendiri. Aktor di layar harus bersaing dengan ratusan ribu tubuh imajinatif yang lebih dahulu tercipta.
Dari Jadwal Siaran Menuju Arsip Ingatan
Wafatnya Wa Kepoh pada 28 Desember 2013 menandai berakhirnya satu tubuh suara. Jejak pertunjukannya tetap hidup dalam ingatan pendengar. Kemampuannya memainkan beragam usia dan karakter menjadi bagian utama dalam berbagai kenangan tentang dongeng radio Sunda.
Si Rawing kemudian memperoleh kehidupan baru melalui kanal Youtube Radio Cakra Bandung. Cerita karya Yayat dibawakan kembali oleh Dora Dori, disiarkan melalui radio, dan disimpan di YouTube dalam rangkaian panjang episode. Perpindahan tersebut mengubah cara cerita bertemu dengan khalayaknya. Pendengar radio lama harus menyesuaikan diri dengan jadwal siaran. Pendengar digital dapat memilih waktu, mengulang episode, menelusuri bagian yang tertinggal, serta membagikannya kepada orang lain.
Cooper menunjukkan bahwa peralihan dari siaran linear menuju layanan pengaliran dan sesuai permintaan telah mengubah pendengar menjadi pengguna yang lebih aktif. Arsip digital juga memperbesar daya nostalgia karena suara masa lalu dapat dipanggil kembali dengan mudah (Cooper, 2022: 187โ205). Nostalgia dalam konteks ini bukan keinginan sederhana untuk kembali ke zaman lama. Ia menjadi cara menilai masa kini melalui pengalaman mendengar yang pernah membentuk kehidupan.
Pembacaan kembali oleh Dora Dori juga menegaskan bahwa pelestarian tradisi tutur selalu melibatkan perubahan. Suara berbeda, konteks penyiaran berubah, teknologi berganti, dan kebiasaan pendengar berkembang. Cerita bertahan karena mampu memasuki perubahan itu. Penceritaan kembali tidak menghasilkan salinan yang sepenuhnya sama. Ia menciptakan hubungan baru antara kisah, pendongeng, media, dan khalayak.
Radio lama menciptakan kebersamaan melalui keserentakan: banyak orang mendengar episode yang sama pada jam yang sama. YouTube menciptakan kebersamaan melalui keterhubungan arsip: orang-orang dari tempat dan generasi berbeda dapat menemukan cerita yang sama pada waktu masing-masing. Si Rawing berpindah dari udara siaran ke ruang digital tanpa kehilangan sifat dasarnya sebagai sastra suara.
Pada akhirnya, Si Rawing bertahan karena cerita itu dibangun untuk didengar dan dituturkan kembali. Yayat Rukhiyat memberinya dunia. Wa Kepoh memberinya tubuh suara. Para pendengar memberinya wajah, gerakan, dan ruang di dalam imajinasi. Dora Dori serta media digital membuka jalan agar dunia tersebut dapat dimasuki kembali.
Luka di telinga memberi Darma sebuah nama. Telinga para pendengar memberinya kehidupan.
Daftar Pustaka
Broadcastmagz. 2014. โYayat R, Penulis Naskah Dongeng Sunda โSi Rawingโโโ. Broadcastmagz, 7 November. Tersedia di: https://www.broadcastmagz.com/yayat-r-penulis-naskah-dongeng-sunda-si-rawing/.
Cooper, Martin. 2022. Radioโs Legacy in Popular Culture: The Sounds of British Broadcasting over the Decades. New York: Bloomsbury Academic.
Falconi, Elizabeth A. dan Kathryn E. Graber, ed. 2019. Storytelling as Narrative Practice: Ethnographic Approaches to the Tales We Tell. Leiden: Brill.
Hand, Richard J. dan Mary Traynor. 2011. The Radio Drama Handbook: Audio Drama in Context and Practice. New York: Continuum.
Hermawan, Ucep, Dadang Darmawan dan Bambang Qomaruzzaman. 2024. โEkspresi Pengalaman Agama Budayawan Sunda Yat R dalam Serial Dongeng Si Rawing pada Chanel YouTube Radio Cakra Bandungโ. Indonesian Journal of Religion and Society, 6(2): 88โ99. https://doi.org/10.36256/ijrs.v6i2.431.
Marliana, Dina, Agus Permana dan A. Soheh Mukarrom. 2025. โKiprah Pendongeng Sunda dalam Melestarikan Tradisi Lisan Masyarakat Sunda Abad Ke-20โ. Historia Madania, 9(2): 231โ246.
Pinkerton, Alasdair. 2019. Radio: Making Waves in Sound. London: Reaktion Books. Teddern, Sue dan Nick Warburton. 2016. Writing for TV and Radio: A Writersโ and Artistsโ Companion. London: Bloomsbury Academic.

Tinggalkan Balasan