Christopher Nolan, Odysseus, dan Perang yang Tidak Selesai di Ithaka

Ganjar Harimansyah

Fragmen manuskrip Odyssey (Ὀδύσσεια) tertua dibuat di Mesir Ptolemaik  pada abad ke-3 SM dan ditemukan di Medinet Ghoram.

Saya terlambat menonton The Odyssey. Ketika akhirnya mendapat kesempatan, penayangannya di Jakarta tinggal di satu bioskop dan percakapan tentang film Christopher Nolan itu telah lebih dahulu memenuhi media sosial, ulasan film, dan berbagai ruang diskusi. Keterlambatan ternyata memberi keuntungan kecil. Film itu dapat ditonton setelah kegaduhan tentang besarnya produksi, kamera IMAX, para bintang, Cyclops, Circe, dan kuda Troya mulai mereda. Yang tersisa sesudah hampir tiga jam justru sebuah pertanyaan yang jauh lebih sederhana. Apa sebenarnya arti pulang bagi seseorang yang sudah terlalu lama hidup di dalam perang?

Pertanyaan itu terasa semakin kuat karena dua tahun sebelum film Nolan, Uberto Pasolini telah membuat The Return (2024), sebuah adaptasi yang hanya mengambil bagian kepulangan Odysseus ke Ithaka. British Film Institute menggambarkan Odysseus yang diperankan Ralph Fiennes sebagai manusia yang remuk oleh pengalaman perang, shattered by his experience of war, sementara film itu sendiri dibaca sebagai drama tentang harga kemanusiaan perang, human cost of war. Pasolini membuang hampir seluruh monster, dewa, dan petualangan laut. Yang tersisa adalah seorang veteran yang harus memasuki kembali rumah yang pernah ditinggalkannya dan menghadapi orang-orang yang turut menanggung akibat ketidakhadirannya.

Nolan mengambil jalan yang berlawanan secara visual. Monster dikembalikan, lautan dibesarkan, Troy dibakar, kapal-kapal dihantam badai, dan tubuh manusia ditempatkan di tengah bentang alam yang terasa terlalu besar untuk dikuasainya. Film ini menjadi rilisan bioskop pertama yang seluruhnya direkam dengan kamera film IMAX, sebuah pencapaian teknis yang sesuai dengan ambisi Nolan untuk membuat dunia Homeros hadir sebagai pengalaman fisik. Anehnya, di balik segala kebesaran itu, Nolan akhirnya sampai pada tempat yang hampir sama dengan Pasolini. Odysseus yang menarik perhatiannya bukan terutama penakluk monster. Ia seorang lelaki yang harus menemukan cara hidup setelah dirinya terlalu lama menjadi prajurit.

Di situlah The Odyssey tahun 2026 menjadi menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai adaptasi sastra, juga sebagai tanda perubahan cara zaman kita membayangkan seorang pahlawan.

Pulang yang Tidak Pernah Sederhana

Banyak orang mengenal Odyssey melalui potongan-potongan petualangannya. Ada Cyclops bermata satu, para pemakan lotus, Circe yang mengubah manusia menjadi babi, nyanyian Siren, Scylla dan Charybdis, dunia orang mati, Calypso, serta kapal yang terus-menerus kehilangan arah. Rangkaian itu membuat Odyssey mudah diperlakukan sebagai nenek moyang cerita petualangan dan fantasi modern. Katherine Fowkes bahkan menempatkan Odyssey bersama Metamorphoses karya Ovidius dan The Golden Ass sebagai salah satu akar jauh tradisi fantasi Barat (Fowkes, 2010).

Jika petualangan itu dibaca sebagai keseluruhan, pusat ceritanya segera bergeser. Odysseus sebenarnya tidak berangkat untuk menemukan dunia baru. Ia hanya ingin kembali ke Ithaka. Henry Power menyebut Odyssey sebagai puisi tentang ingatan. Ancaman terbesar selama perjalanan bukan hanya kemungkinan mati di laut. Odysseus juga terus dihadapkan pada kemungkinan melupakan jalan pulang, melupakan Penelope, kehilangan nama, atau berubah menjadi seseorang yang tidak lagi terhubung dengan kehidupan sebelum perang. Power menghubungkan nostos, kepulangan, dengan rasa sakit yang menyertai ingatan tentang rumah. Kepulangan dalam Odyssey selalu membawa luka yang tersimpan di dalam perjalanan itu sendiri (Power, 2011).

Hal itu menjelaskan mengapa lotus begitu berbahaya. Buah tersebut tidak membunuh. Ia membuat orang lupa keinginan untuk kembali. Calypso menawarkan sesuatu yang bahkan lebih menggoda, kehidupan tanpa kematian. Odysseus tetap memilih Penelope yang akan menua, Ithaka yang berbatu, dan hidup manusia yang mempunyai batas. Dalam salah satu pembacaan Jean-Pierre Vernant, persoalan yang dipertaruhkan melalui Calypso ialah apakah Odysseus masih akan kembali melalui tanah kelahirannya menuju dunia manusia (Vernant, 1996).

Di sini Odyssey berbeda secara mendasar dari Iliad. Dunia Achilles dibangun di sekitar kleos, kemasyhuran yang mengalahkan umur pendek. Dunia Odysseus lebih dekat kepada kelangsungan hidup. Seth Schein melihat pergeseran ini sebagai perubahan konsepsi kepahlawanan. Selepas perang, pilihan hidup menjadi lebih rumit daripada mati dengan gagah di medan laga. Odysseus harus bertahan, menyesuaikan diri, menyamar, bercerita, berbohong, meminta pertolongan, menahan penghinaan, mengenali orang lain, dan akhirnya dikenali kembali (Schein, 1996). Charles Segal juga menunjukkan bahwa Odyssey membawa jarak kritis terhadap gagasan kleos yang sebelumnya begitu menentukan kehidupan seorang pahlawan (Segal, 1996).  Kepahlawanan sesudah perang ternyata memerlukan kemampuan yang berbeda dari kepahlawanan di dalam perang.

Laut Selebar IMAX

Nolan tampaknya memahami kebutuhan Odyssey akan ruang. Dan Curley, dalam pembahasannya mengenai epos di layar, menunjukkan bahwa film epik membutuhkan ruang yang cukup luas untuk mempertemukan dua wilayah sekaligus. Ada ruang luar tempat perjalanan, perang, kota, dan bentang alam berlangsung. Ada pula ruang dalam tempat tokoh berbicara, mengambil keputusan, bersekutu, mencintai, dan mengkhianati. Layar lebar menjadi padanan sinematik bagi keluasan puisi epik, sebab skala besar memperoleh makna ketika kehidupan yang sangat pribadi ditempatkan di dalamnya (Potter dan Gardner, 2022).

Itulah yang membuat penggunaan IMAX dalam film Nolan lebih dari urusan teknologi. Kamera membesarkan laut, kapal, gua, tembok Troy, dan tubuh Cyclops sampai Odysseus terlihat kecil di hadapannya. Nolan sendiri menjelaskan keinginannya membuat unsur fantastis terasa setanah dengan dunia nyata yang difilmkannya. Ia menggunakan efek digital, animatronik, boneka, lokasi nyata, kapal nyata, bahkan cuaca laut yang sungguh dihadapi para pemain untuk memberi berat fisik kepada dunia mitos.

Pendekatan itu penting karena fantasi bekerja dengan baik ketika keajaiban mempunyai konsistensi di dalam dunia cerita. Fowkes menyebut salah satu cirinya sebagai keretakan ontologis, ontological rupture, yakni hadirnya sesuatu yang mustahil menurut hukum dunia sehari-hari, lalu diterima sebagai nyata di dalam dunia film (Fowkes, 2010). James Walters mengingatkan bahwa fantasi juga dapat membawa penonton kembali kepada persoalan nyata manusia. Dunia yang mustahil justru dapat memperjelas ketakutan, kesepian, ambisi, kecemasan, cinta, kekuasaan, serta pengalaman historis yang menyakitkan (Walters, 2011).

Cyclops, Siren, Circe, dan dunia orang mati lalu memperoleh fungsi yang lebih menarik daripada sekadar katalog makhluk ajaib. Mereka menjadi bentuk-bentuk ekstrem dari kemungkinan kehilangan kemanusiaan. Manusia dapat kehilangan nama, ingatan, tubuh, kehendak, kawan, bahkan keinginan untuk pulang. Fantasi Homeros sesungguhnya terasa modern karena monster-monsternya selalu menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi.

Ketika Metis Menjadi Rasa Bersalah

Pada titik inilah Nolan melakukan perubahan terpenting terhadap Odysseus. Homeros menyebut pahlawannya melalui berbagai ungkapan yang menandai kecerdikan, keluwesan pikiran, serta kemampuan menemukan jalan keluar. Kata yang sering dipakai untuk membicarakan kualitas tersebut ialah metis. Odysseus hidup karena ia dapat membaca keadaan dan mengubah dirinya sesuai kebutuhan. Ia dapat menjadi panglima perang pada satu saat, “Nobody” beberapa saat kemudian, pengemis ketika memasuki rumahnya sendiri, lalu raja kembali ketika waktunya tiba.

Episode Cyclops memperlihatkan sifat itu dalam bentuk paling sempurna sekaligus paling berbahaya. Odysseus menyelamatkan diri dengan memberi nama palsu “Nobody” kepada Polyphemos. Kelicikan tersebut membuat Cyclops gagal memperoleh bantuan. Sesudah kapalnya menjauh, Odysseus justru meneriakkan nama sebenarnya. Kesombongan membatalkan sebagian keuntungan yang diperoleh kecerdikan. Pahlawan itu selamat berkat metis, lalu memperpanjang penderitaannya karena dorongan mengumumkan siapa dirinya.

Nolan mengurangi bagian terpenting dari permainan itu. Cyclops tampil lebih menyeramkan dan jauh lebih sedikit berbicara. Tipuan “Nobody” dan pengungkapan nama yang memicu kutukan Poseidon hilang. Chris Tryhorn mencatat bahwa perubahan tersebut sejalan dengan keputusan film mengurangi identitas Odysseus sebagai penipu ulung dan menonjolkan ketangguhan seorang veteran yang dibentuk perang.

Konsekuensinya cukup besar. Odysseus menjadi lebih mudah dibaca secara moral oleh penonton modern. Kesalahan-kesalahannya ditempatkan di sekitar trauma, rasa bersalah, serta keputusan-keputusan masa perang. Daniel Mendelsohn melihat versi ini sebagai pahlawan yang sangat dekat dengan tokoh-tokoh Nolan lainnya, manusia yang dikejar masa lalu dan berusaha memahami akibat perbuatannya.

Perubahan tersebut menghasilkan film yang kuat sekaligus mengurangi salah satu lapisan paling khas dari Homeros. Odysseus dalam epos sulit dimasukkan ke dalam kotak moral yang rapi. Ia penyelamat dan pembuat masalah, korban sekaligus pelaku kekerasan, suami yang merindukan rumah sekaligus lelaki yang menghabiskan waktu bersama Circe dan Calypso. Ia pandai bercerita hingga kisah yang disampaikannya sendiri selalu mengandung kemungkinan rekayasa. Laura Slatkin memperlihatkan bagaimana narasi orang pertama Odysseus justru membuat Odyssey mengajukan pertanyaan mengenai keterbatasan kesaksian dan perspektif. Orang yang mengalami sebuah peristiwa belum tentu menjadi orang yang paling mampu melihat keseluruhannya (Slatkin, 1996).

Nolan mempertahankan manusia yang dihantui masa lalu, lalu mengurangi manusia yang mampu menciptakan dirinya melalui cerita. Di situlah Odysseus menjadi lebih dekat kepada kita sekaligus sedikit lebih jauh dari Homeros.

Penelope dan Ranjang yang Hilang

Kehilangan yang lebih terasa terdapat pada Penelope. Dalam epos Homeros, perjalanan Odysseus tidak selesai ketika kapal mencapai Ithaka. Ia harus kembali memperoleh tempatnya di rumah, dalam keluarga, dan di dalam ingatan orang-orang yang ditinggalkan. Ia dikenali melalui tanda yang berbeda-beda. Anjing tua Argos mengenalinya. Eurycleia menemukan bekas luka. Telemachus menerima pengungkapan identitas ayahnya. Penelope memilih cara yang jauh lebih rumit.

Sesudah para pelamar dibunuh, Penelope belum segera memeluk lelaki yang mengaku sebagai suaminya. Ia menguji Odysseus melalui ranjang perkawinan mereka. Penelope memerintahkan agar ranjang itu dipindahkan. Odysseus bereaksi karena ia tahu tindakan tersebut mustahil. Ia sendiri membangun ranjang itu dengan memanfaatkan pohon zaitun yang masih berakar sebagai salah satu bagiannya. Pengetahuan tentang benda yang tidak dapat dipindahkan itulah yang akhirnya memindahkan hubungan mereka kembali ke tempat semula.

Nancy Felson-Rubin menunjukkan bahwa ujian ranjang itu bekerja dalam dua arah. Penelope sedang menguji suaminya, sekaligus menyatakan kesetiaannya melalui kecerdikan yang hanya dapat dipahami oleh lelaki yang mempunyai kecerdikan sepadan. Hubungan mereka mencapai kembali keintimannya melalui metis, bukan melalui kepatuhan sepihak (Felson-Rubin, 1996). Dalam pembacaan lebih luas, Odyssey bahkan berulang kali membuat pengalaman Penelope sejajar dengan Odysseus. Salah satu perumpamaan menjelang pertemuan mereka membandingkan kegembiraan Penelope melihat suaminya dengan kegembiraan penyintas kapal karam yang akhirnya mencapai daratan. Pengalaman kepulangan itu secara puitis dibagikan kepada keduanya.

Nolan meniadakan ujian ranjang dan menggantinya dengan bukti lain mengenai identitas Odysseus. Secara dramatik, pilihan tersebut mempersingkat pengenalan. Secara tematik, sesuatu yang penting ikut terpangkas. Ranjang dalam Homeros bukan furnitur. Ia adalah rumah dalam bentuk paling kecil. Akarnya berada di tanah, tubuh dua manusia pernah beristirahat di atasnya, dan rahasianya hanya dimiliki oleh pasangan yang membangun kehidupan di sekelilingnya.

Odysseus telah mengalahkan monster, selamat dari laut, dan membantai para pelamar. Ia tetap belum benar-benar pulang sebelum Penelope mengenalinya. Homeros seakan mengatakan bahwa rumah bukan tempat yang dapat direbut kembali dengan pedang. Rumah harus dikenali oleh orang yang tinggal di dalam ingatan kita.

Pahlawan yang Pulang dari Perang

Di sinilah The Odyssey Nolan bersentuhan dengan kegelisahan zaman sekarang. Andrew B. R. Elliott mengingatkan bahwa film epik yang mengambil masa lampau kerap berfungsi sebagai semacam seismograf kebudayaan. Masa lalu dapat digunakan untuk membaca kekhawatiran masa kini tanpa mengubah film sejarah menjadi alegori sederhana. Epos modern tentang dunia kuno kemudian sering berbicara mengenai perang, kekuasaan, imperialisme, keyakinan, dan kekerasan melalui kecemasan masyarakat yang memproduksinya (Elliott, 2014).

Amanda Potter dan Hunter Gardner juga melihat adaptasi epos di layar sebagai proses yang memungkinkan nilai lama diperiksa kembali dari perspektif masyarakat kontemporer. Ambiguitas moral Odysseus, termasuk kekerasan yang dilakukannya kepada para pelamar, dapat memperoleh penilaian yang berbeda ketika dibaca oleh penonton sekarang (Potter dan Gardner, 2022). Adaptasi lalu menjadi pertemuan dua zaman. Homeros memberi cerita. Zaman baru menentukan luka mana yang paling terdengar.

Itulah sebabnya kedekatan antara The Return dan The Odyssey Nolan layak diperhatikan. Pasolini menghilangkan petualangan fantastis agar perang terlihat pada tubuh dan pernikahan. Nolan mempertahankan spektakel, lalu menjadikan perjalanan itu jalur menuju rasa bersalah atas apa yang terjadi di Troy. Dalam film Nolan, kuda Troya memperoleh peran jauh lebih besar daripada dalam Odyssey Homeros. Sinon ikut dimasukkan dari tradisi yang lebih dekat kepada Aeneid Vergilius. Yang paling penting, kemenangan di Troy tidak lagi hadir hanya sebagai keberhasilan kecerdikan militer. Ia menjadi sumber pertanyaan moral mengenai apa yang dilepaskan oleh perang ketika sebuah kota akhirnya dibuka untuk para pemenang.

Dua film itu memperlihatkan kecenderungan yang sukar dianggap kebetulan. Odysseus yang dahulu mudah difilmkan sebagai petualang kini semakin menarik sebagai veteran. Pertanyaan utama perlahan berubah dari “bagaimana ia dapat melewati monster dan pulang?” menjadi “siapa yang pulang setelah semua itu selesai?”

Perubahan ini membuat istilah nostos memperoleh gema baru. Kepulangan geografis dapat diselesaikan ketika kapal menyentuh pantai. Kepulangan batin membutuhkan waktu yang lain.

Odyssey yang Tidak Pernah Berhenti Kembali

Nolan juga tidak datang ke ruang kosong. Hubungan Odyssey dan layar hampir sepanjang sejarah sinema sendiri. L’Odissea dari Italia sudah muncul pada 1911, ketika film masih bisu dan bahasa sinema sedang mencari bentuk. Pada 1954, Mario Camerini membawa Ulysses ke layar dengan Kirk Douglas sebagai Ulysses, Silvana Mangano sebagai Penelope sekaligus Circe, dan Anthony Quinn sebagai Antinous. Film itu memadatkan Homeros menjadi petualangan yang sesuai dengan irama sinema populer zamannya.

Masalah terbesar setiap adaptasi segera terlihat. Odyssey terlalu panjang sekaligus terlalu rumit untuk dipindahkan secara lurus ke film. Ceritanya bergerak maju dan mundur, memuat kisah di dalam kisah, menyimpan pengenalan yang tertunda, serta membuat Odysseus sendiri menjadi pencerita bagi sebagian petualangannya. Mendelsohn menilai bentuk seri jauh lebih cocok menampung struktur semacam itu. L’Odissea (1968) karya Franco Rossi, yang terdiri atas delapan bagian dan berdurasi keseluruhan sekitar tujuh setengah jam, masih sering dianggap salah satu dramatisasi layar yang paling teliti mengikuti struktur Homeros.

Televisi kembali mencobanya melalui The Odyssey (1997) yang disutradarai Andrei Konchalovsky. Produksi NBC itu meraih lima nominasi Emmy dan memenangkan dua, termasuk penyutradaraan Konchalovsky serta efek visual. Bentuk miniseri memberi ruang yang lebih luas daripada film bioskop, meskipun pilihan naratifnya berbeda cukup jauh dari versi Rossi. Potter dan Gardner bahkan mencatat persoalan format sebagai hal mendasar ketika membandingkan adaptasi epos. Durasi panjang memungkinkan perkembangan tokoh dan peristiwa yang sukar dicapai film satu setengah atau dua jam (Potter dan Gardner, 2022).

Lalu Odyssey meninggalkan Yunani tanpa benar-benar meninggalkan Homeros. Joel dan Ethan Coen membuat O Brother, Where Art Thou? (2000), memindahkan perjalanan itu ke Mississippi pada masa Depresi Besar. Kredit pembukaannya sendiri menyatakan bahwa film tersebut didasarkan pada The Odyssey, meskipun hubungan itu dikerjakan melalui permainan, parodi, musik, dan transposisi budaya. Theo Angelopoulos bergerak lebih jauh melalui Ulysses’ Gaze (1995). Film tentang sineas yang menjelajahi Balkan itu sebaiknya dipahami sebagai reinterpretasi Odyssean atau “Odyssey modern”, bukan adaptasi langsung alur Homeros. BFI menempatkan perjalanan tokohnya di dalam jaringan mitos Yunani dan sejarah Balkan yang sedang terluka oleh perang.

Perbedaan kategori tersebut penting. Adaptasi langsung mencoba memindahkan cerita. Transposisi memindahkan struktur. Reinterpretasi mengambil cara berpikir Odyssean untuk memahami pengalaman baru. Tradisi panjang ini menjelaskan mengapa Odyssey dapat terus hadir tanpa harus selalu membawa toga, kapal Yunani, atau Cyclops.

Jasper Griffin mencatat daya hidup semacam itu jauh melampaui film. Dante, Tennyson, Joyce, Kazantzakis, dan banyak pengarang lain telah mengambil Odysseus untuk kepentingan zamannya masing-masing. Griffin sampai menyebut sulit menemukan karya lain yang memperlihatkan kesuburan yang demikian panjang dalam bentuk sastra, seni, dan cerita (Griffin, 2004). Sebelum Nolan membawa Odysseus ke IMAX, tokoh itu sudah berkali-kali meninggalkan Ithaka melalui imajinasi orang lain.

Pulang, Lalu Berlayar Lagi

Perubahan terakhir Nolan mungkin merupakan perubahan yang paling menyimpang dari Homeros sekaligus paling menarik secara intertekstual. Dalam film, Telemachus akhirnya menjadi raja. Odysseus dan Penelope meninggalkan Ithaka dengan kapal untuk menghormati para sahabat yang gugur. Homeros menutup kisahnya dengan jalan berbeda. Odysseus masih menemui ayahnya, Laertes, dan kekerasan dengan keluarga para pelamar baru berhenti setelah campur tangan Athena.

Ada sesuatu yang terasa paradoksal dalam akhir Nolan. Seluruh perjalanan dibangun menuju kepulangan. Sesudah rumah akhirnya diperoleh kembali, Odysseus justru kembali ke laut.

Akhir seperti itu lebih dekat secara semangat kepada tradisi Odysseus pasca-Homeros daripada kepada Homeros sendiri. Dalam “Ulysses”, Alfred Tennyson membayangkan seorang raja Ithaka yang tidak sanggup menghabiskan usia hanya dengan berdiam di rumah. Laut kembali memanggil. Griffin membedakan figur tersebut dari Odysseus Homerik yang pada akhirnya diharapkan menua dengan damai setelah menyelesaikan perjalanan terakhir yang dinubuatkan Teiresias (Griffin, 2004). Kita tidak mempunyai dasar untuk mengatakan bahwa Nolan mengambil akhir Tennyson. Kedekatan itu lebih aman dibaca sebagai persinggungan dalam sejarah panjang penafsiran Odysseus.

Di sini film Nolan memperoleh kalimat penutupnya sendiri. Homeros menulis tentang seorang manusia yang mengembara agar dapat pulang. Nolan membuat seorang manusia pulang agar akhirnya sanggup berangkat kembali. Perbedaannya menyimpan pandangan yang sangat modern mengenai luka. Rumah memang dapat menerima orang yang pulang. Rumah tidak selalu dapat menghapus apa yang dibawa dari tempat yang jauh.

Mungkin itu pula sebabnya The Odyssey masih bertahan hampir tiga milenium setelah kisahnya pertama kali dinyanyikan. Monster dapat berubah bentuk. Laut dapat menjadi layar IMAX. Perang dapat berlangsung dengan senjata yang berbeda. Satu persoalan tetap tinggal bersama manusia sejak Troy hingga zaman sekarang. Sesudah pulang dari tempat yang mengubah hidup, seseorang masih harus menemukan jalan untuk kembali kepada dirinya sendiri.

Daftar Pustaka

Elliott, Andrew B.R. (ed.). 2014. The Return of the Epic Film: Genre, Aesthetics and History in the Twenty-first Century. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Fowkes, Katherine A. 2010. The Fantasy Film. Chichester: Wiley-Blackwell.

Griffin, Jasper. 2004. Homer: The Odyssey. Edisi kedua. Cambridge: Cambridge University Press.

Homer. 2018. The Odyssey. Diterjemahkan oleh Peter Green. Oakland: University of California Press.

Mendelsohn, Daniel. 2026. “Artful Weaving.” The New York Review of Books, 20 Agustus 2026.

Nicholson, Ben. 2025. “The Return: Ralph Fiennes and Juliette Binoche Bring Ferocity to This Stripped Back Reimagining of Homer’s Odyssey.” Sight and Sound, 11 April 2025.

Potter, Amanda dan Hunter Gardner (eds). 2022. Ancient Epic in Film and Television. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Power, Henry. 2011. Homer’s Odyssey: A Reading Guide. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Schein, Seth L. (ed.). 1996. Reading the Odyssey: Selected Interpretive Essays. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Thomas, Lou. 2026. “‘It’s Never Quite Brutal Enough for Chris’: The Odyssey Cast Reveal How They Created Christopher Nolan’s Epic Adventure.” British Film Institute, 16 Juli 2026.

Tryhorn, Chris. 2026. “Sex, Beds and Grisly Executions: What Christopher Nolan’s The Odyssey Changed, Invented – and Left Out.” The Guardian, 20 Juli 2026. Walters, James. 2011. Fantasy Film: A Critical Introduction. Oxford: Berg.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Linguistik-Sastrawi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca