
Empat tahun berlalu sejak The Batman (2022) menghadirkan Robert Pattinson sebagai manusia kelelawar yang murung di tengah hujan Kota Gotham. Saya masih merindukan suasana kota itu, juga sosok Batman yang memerangi kejahatan sambil bergulat dengan luka masa lalunya. Kelanjutan film Matt Reeves itu masih harus ditunggu, mungkin tahun 2028 akan tayang. Ketika Clayface (2026) hadir di bioskop, saya datang dengan kerinduan yang sama, meski tokoh utamanya justru salah seorang musuh Batman. Ternyata, Gotham tetap dapat bercerita ketika sang manusia kelelawar absen dari layar. Kali ini, kisahnya berangkat dari seorang aktor yang kehilangan wajah.
Matt Hagen (Tom Rhys Harries) tumbuh di The Narrows, kawasan keras di Gotham, lalu berhasil membangun karier di dunia film Coast City. Ia mulai dikenal dan mendapat nominasi penghargaan. Masa depannya tampak terbuka sampai seorang gangster melukai wajahnya secara brutal. Pekerjaan menghilang, orang-orang menjauh, dan kehidupan yang susah payah dibangunnya runtuh. James Watkins, sutradara film ini, mengajak kita melihat peristiwa tersebut dari sisi Matt, jauh sebelum ia berubah menjadi monster. Di hadapan penonton ada seseorang yang kehilangan penghasilan, kedudukan sosial, dan keyakinan bahwa ia masih berharga.
Wajah Matt sebelumnya menjadi modal yang membuka pintu ketenaran. Ketika wajah itu rusak, dunia yang memujanya seakan tidak lagi mengenalnya. Industri hiburan dalam film ini memiliki ukuran yang kejam terhadap penampilan. Kecantikan wajah dapat menentukan siapa yang diterima dan siapa yang disingkirkan. Sindiran itu sebenarnya melampaui dunia perfilman. Di luar bioskop, kita juga hidup di tengah foto profil, kamera ponsel, dan kebiasaan menilai orang dari kesan pertama. Berapa banyak hal tentang seseorang yang luput hanya karena kita berhenti pada wajahnya?
Ada detail kecil yang membuat kisah Matt lebih manusiawi. Setelah kariernya hancur, ia kembali ke The Narrows. Aksen bicaranya yang sempat berubah di Coast City terdengar lebih kuat saat pulang. Tom Rhys Harries menjelaskan bahwa perubahan logat itu dirancang bersama pelatih dialek (Greene, 2026). Bahasa ternyata ikut menyimpan perjalanan hidup Matt. Ia telah belajar berbicara dan membawa diri agar diterima dalam lingkungan baru. Saat segalanya hilang, suara masa kecilnya kembali terdengar. Bahkan sebelum tubuhnya berubah, Matt sudah terbiasa menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.
Kesempatan memulihkan wajah datang melalui Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie), ilmuwan yang mengembangkan pengobatan eksperimental. Hasilnya semula menjanjikan. Matt mendapatkan kembali penampilan lamanya, bersama harapan untuk menghidupkan karier yang terhenti. Lalu datang akibat yang tidak diperhitungkan. Tubuhnya mulai berubah tanpa mengikuti kehendaknya. Wajah dapat berganti, anggota tubuh berubah bentuk, dan penampilannya menyerupai orang lain. Seorang aktor yang selama ini berlatih menjadi tokoh berbeda kini benar-benar mampu menjadi siapa saja. Justru di tengah kemampuan baru itu, ia semakin kesulitan menjadi dirinya sendiri.
Film ini menggunakan horor tubuh (body horror), untuk membawa kegelisahan tersebut ke layar. Salah satu adegan paling mengusik terjadi ketika kelopak mata Matt mulai menyatu di dalam pesawat. Kita biasanya membuka mata, tersenyum, dan menggerakkan tangan tanpa memikirkannya. Bayangkan rasa takut ketika tubuh mendadak menolak perintah sederhana itu. Kengerian Clayface muncul dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita: tubuh sendiri berubah menjadi sesuatu yang asing. Dalam The Philosophy of Horror, or, Paradoxes of the Heart, Noël Carroll (1990) menjelaskan daya tarik horor melalui rasa takut, jijik, dan rasa ingin tahu. Kita ngeri melihat Matt, sekaligus ingin mengetahui apakah manusia yang kita kenal masih ada di balik perubahan tersebut.
Perubahan tubuh sebagai jalan menuju pertanyaan tentang manusia memiliki sejarah panjang dalam sastra. Kisah metamorfosis sering memperlihatkan rasa terasing, hilangnya pengakuan, dan rapuhnya hubungan seseorang dengan lingkungan sosialnya. Clayface meneruskan persoalan tersebut melalui komik dan film. Sosok Clayface mula-mula hadir sebagai Basil Karlo dalam Detective Comics nomor 40 pada 1940. Matt Hagen muncul kemudian, dalam nomor 298 pada 1961. Film tahun 2026 terutama memanfaatkan penggambaran Matt sebagai aktor dalam episode Feat of Clay dari Batman: The Animated Series (1992), sebagaimana dijelaskan Lapin-Bertone (2026). Perjalanan itu sendiri memperlihatkan bagaimana satu tokoh dapat berganti rupa sepanjang zaman.
Will Brooker, dalam Hunting the Dark Knight: Twenty-First Century Batman (2012), menguraikan bagaimana dunia Batman terus dibentuk melalui hubungan komik, film, animasi, dan penontonnya. Tokoh yang sama memperoleh penafsiran baru ketika berpindah media. Clayface adalah contoh yang baik. Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai penjahat berkekuatan mengubah bentuk kini mendapat ruang untuk menyampaikan kisah penderitaannya sendiri. Batman pun tidak perlu hadir untuk menjelaskan seluruh persoalan. Gotham menjadi lebih luas daripada panggung pertarungan pahlawan dan penjahat. Di dalamnya ada manusia yang semula ingin hidup lebih baik, lalu memilih jalan yang semakin merusak dirinya.
Jika perubahan wajah itu dibaca melalui filsafat, persoalannya tentu menjadi menarik. Tim Pickavance, dalam esai “Drawing a Line in the Sandman” yang dimuat dalam Supervillains and Philosophy (disunting Ben Dyer, 2009), membahas identitas melalui Sandman, tokoh bertubuh pasir dalam cerita Spider-Man. Ia bahkan menyebut Clayface sebagai tokoh yang menghadapi persoalan sejenis. Pickavance mengajak pembaca mengingat paradoks Kapal Theseus. Jika bagian-bagian sebuah kapal diganti satu demi satu sampai tak ada yang tersisa dari bahan aslinya, apakah kapal itu masih kapal yang sama? Pertanyaan tersebut terasa lebih dekat ketika diterapkan pada manusia yang tubuhnya terus berubah.
Matt dapat memiliki wajah dan bentuk tubuh yang berbeda setiap saat. Apa yang masih menjadikannya Matt Hagen? Apakah ingatan, kesadaran, riwayat hidup, atau hubungan dengan orang-orang yang mengenalnya? Kita sendiri selalu berubah. Wajah menua, rambut memutih, dan pengalaman memperbarui cara pandang. Meski demikian, kita biasanya merasa tetap menjadi orang yang sama. Clayface membawa perubahan itu sampai batas yang mengerikan. Ia memperlihatkan betapa sedikitnya jawaban yang kita miliki ketika identitas tak lagi dapat dikenali dari bentuk tubuh. Pertanyaan tentang wajah akhirnya berubah menjadi pertanyaan tentang diri.
Penderitaan Matt juga menguji cara kita memandang kejahatan. Ia mula-mula menjadi korban kekerasan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dahulu mendekatinya. Penonton dapat memahami kemarahan dan rasa putus asanya. Ketika kemarahan itu berkembang menjadi balas dendam, simpati kita menghadapi batas. Pengalaman sebagai korban membantu menjelaskan tindakan seseorang. Akibat tindakannya tetap perlu dinilai. Hubungan Matt dengan Caitlyn membuat batas tersebut semakin rumit. Caitlyn berusaha menolong melalui ilmu pengetahuan, sementara Matt melihatnya sebagai seseorang yang masih bersedia memandang dirinya sebagai manusia. Eksperimen mereka membawa harapan, kedekatan, dan tanggung jawab atas akibat yang muncul.
Dari segi film, kekuatan Clayface terletak pada suasana Gotham yang kusam, perubahan tubuh yang mengganggu, serta permainan Harries yang menjaga sisa-sisa kemanusiaan Matt tetap terlihat. Ada saat-saat ketika horor terasa lebih menyentuh daripada adegan aksi. Kelemahannya muncul ketika rangkaian balas dendam bergerak begitu cepat sehingga sebagian pergulatan batin kehilangan ruang. Hubungan Matt dan Caitlyn pun sesekali membutuhkan waktu lebih panjang agar perubahan perasaan mereka terasa utuh. Keberanian film ini terletak pada pilihannya memberi perhatian kepada manusia yang biasanya hanya muncul sebagai lawan Batman. Kita diajak memahami prosesnya, sambil tetap mempertanyakan pilihan-pilihan yang diambilnya.
Seusai menonton, kerinduan saya kepada Batman mendapat jawaban yang tak terduga. Batman mengenakan topeng untuk menjalankan gagasannya tentang keadilan. Clayface bisa memakai wajah siapa saja, lalu semakin kehilangan kepastian tentang dirinya sendiri. Perbandingan itu membuat film ini terasa dekat dengan kehidupan di luar Gotham. Kita juga memainkan berbagai peran sebagai pekerja, orang tua, sahabat, atau pemimpin. Setiap peran meminta penyesuaian, kadang sampai kita sukar membedakan keinginan sendiri dari harapan orang lain. Matt Hagen mengingatkan betapa mudahnya pengakuan dari luar berubah menjadi ukuran harga diri. Pada akhirnya, yang terpenting adalah kemampuan kita mengenali manusia di balik setiap wajah. Clayface dapat menjadi siapa saja. Yang paling sulit baginya justru menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
Brooker, Will. 2012. Hunting the Dark Knight: Twenty-First Century Batman. London: I.B. Tauris.
Carroll, Noël. 1990. The Philosophy of Horror, or, Paradoxes of the Heart. New York: Routledge.
Greene, Jules Chin. 2026. “Tom Rhys Harries Brings Humanity to Clayface”. DC, 23 Oktober. https://www.dc.com/blog/2026-10-23/tom-rhys-harries-brings-humanity-to-clayface.
Lapin-Bertone, Joshua. 2026. “Rounding up the Easter Eggs in Clayface”. DC, 26 Oktober. https://www.dc.com/blog/2026-10-26/rounding-up-the-easter-eggs-in-clayface.
Pickavance, Tim. 2009. “Drawing a Line in the Sandman”. Dalam Ben Dyer (ed.), Supervillains and Philosophy: Sometimes, Evil Is Its Own Reward, hlm. 179–188. Chicago dan La Salle: Open Court.

Tinggalkan Balasan