Ganjar Harimansyah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Salam bahasa dan sastra.
Yang saya hormati Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Ibu Dr. Puji Retno Hardiningtyas, bersama rekan-rekan Balai Bahasa, Duta Bahasa, dan peserta Magang Kerja
Yang saya hormati Prof. Dr. Djoko Saryono beserta seluruh anggota tim juri Anugerah Sutasoma,
para sastrawan, kritikus sastra, akademisi, guru, penggerak komunitas, pegiat bahasa dan sastra,
serta para penerima Anugerah Sutasoma yang saya banggakan.
Hadirin yang saya muliakan,
Siang ini kita berkumpul dalam Anugerah Sutasoma. Saya ingin berhenti sejenak pada kata anugerah. Sebuah anugerah adalah bentuk pengakuan. Kita tidak sedang mengadakan perlombaan. Kita juga tidak sekadar membagikan hadiah. Ada karya yang dianggap penting. Ada kerja yang layak dicatat. Ada orang-orang yang telah memberi arti bagi kehidupan sastra.
Maka, pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya yang kita anugerahi hari ini?
Apakah sebuah buku? Seorang pengarang? Seorang guru? Sebuah komunitas?
Bagi saya, kita sedang memberi penghargaan kepada ekosistem yang membuat sastra tetap hidup.
Itu sebabnya Anugerah Sutasoma penting. Penghargaan ini memberi tempat kepada guru bahasa dan sastra daerah, guru bahasa dan sastra Indonesia, komunitas sastra, buku karya sastra Indonesia, buku karya sastra daerah, buku esai atau kritik sastra, serta sastrawan.
Susunan itu menyampaikan pesan yang jelas. Sastra tidak lahir dari seorang penulis yang bekerja sendirian. Sastra tumbuh karena ada pembaca, guru, penerbit, kritikus, komunitas, sekolah, media, dan lembaga kebudayaan.
Saya ingin menyoroti guru.
Kita sering sibuk bertanya, bagaimana melahirkan penulis baru? Kita lebih jarang bertanya: siapa yang melahirkan pembaca?
Padahal, tanpa pembaca, sastra akan menjadi tumpukan buku yang rapi, mungkin juga berdebu, atau jadi fail digital yang mengendap di aplikasi.
Guru mempertemukan generasi baru dengan karya sastra. Di ruang kelas, sastra bisa menjadi hafalan nama pengarang dan tahun terbit. Di tangan guru yang baik, sastra berubah menjadi pengalaman. Anak belajar merasakan, membayangkan, mempertanyakan, dan melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.
Seorang guru sastra sesungguhnya sedang menciptakan generasi pembaca.
Komunitas sastra juga layak mendapat tempat terhormat. Banyak kehidupan sastra justru tumbuh dari ruang sederhana: sanggar, taman bacaan, rumah, sekolah, warung kopi, panggung kampung, atau pertemuan kecil yang pesertanya bisa dihitung dengan jari.
Anehnya, dari ruang kecil semacam itu sering lahir sastra berumur panjang.
Hadirin sekalian,
Anugerah ini memakai nama Sutasoma. Nama itu membawa ingatan besar. Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular lahir dari ruang kebudayaan Jawa Timur. Dari karya itu kita mewarisi ungkapan Bhinneka Tunggal Ika.
Ada pelajaran penting di sana. Kerajaan bisa berakhir. Kekuasaan berganti. Nama pejabat datang dan pergi. Namun, sebuah kalimat yang ditulis dengan kuat dapat menyeberangi berabad-abad. Kita masih membaca Mpu Tantular. Itulah salah satu kekuatan sastra.
Sastra menyimpan sesuatu yang sering luput dari statistik dan laporan resmi. Ia menyimpan cara manusia merasa.
Sejarah dapat mencatat perang. Sastra membuat kita merasakan kecemasan seorang ibu atau seorang kekasih yang menunggu anaknya pulang pulang. Statistik menunjukkan angka kemiskinan. Cerita membawa kita masuk ke rumah seseorang yang harus memilih antara membeli beras atau obat.
Sastra membuat fakta mempunyai wajah manusia. Kalimat itu penting kita ingat, terutama sekarang. Kita hidup pada masa ketika teknologi kecerdasan artifisial dapat menghasilkan teks dalam hitungan detik. Mesin dapat menyusun puisi dan cerita. Kita tidak perlu panik. Perubahan itu justru membuat satu pertanyaan makin penting: untuk apa manusia menulis sastra?
Jika puisi hanya rangkaian kata indah, mesin dapat memproduksinya. Jika cerita hanya alur, teknologi dapat mempelajari polanya. Sastra berurusan dengan pengalaman, kesadaran, pilihan, keberanian mengambil posisi, dan tanggung jawab atas kata-kata.
Sastra bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat. Sastra adalah cara manusia mengalami dunia, mempertanyakannya, lalu memberi bentuk pada pengalaman itu melalui bahasa.
Hadirin yang saya hormati,
Saya merasa bangga keberadaan karya sastra berbahasa Indonesia dan daerah dalam penghargaan ini.
Bahasa Indonesia memungkinkan kita berbicara sebagai bangsa. Bahasa daerah menyimpan cara kita memahami asal-usul, keluarga, alam, humor, kesedihan, dan ingatan kolektif.
Kita tidak perlu mempertentangkan keduanya. Sastra Indonesia justru menjadi kaya ketika bahasa dan sastra daerah tetap hidup.
Jawa Timur memiliki warisan yang kuat. Tradisi Jawa, Madura, Using, Tengger, dengan beragam sastra lisan dan seni pertunjukannya telah hidup jauh sebelum istilah industri kreatif menjadi populer.
Tugas kita bukan mengawetkannya seperti benda museum. Tugas kita membuatnya tetap mampu berbicara kepada zaman.
Hadirin yang saya muliakan,
Anugerah Sutasoma telah tumbuh menjadi tradisi. Tradisi yang baik tidak cukup dipertahankan. Ia perlu diperdalam. Saya berharap Sutasoma tumbuh sebagai institusi ingatan sastra Jawa Timur.
Bayangkan bila seluruh penerima, karya, pertimbangan juri, percakapan, dan perjalanan komunitasnya terdokumentasi dengan baik. Dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang, kita akan memiliki peta sastra Jawa Timur yang sangat berharga.
Siapa menulis apa.
Bahasa apa yang bertahan.
Komunitas mana yang tumbuh.
Tema apa yang menggelisahkan masyarakat.
Bagaimana bentuk sastra berubah.
Pada titik itu, penghargaan berubah menjadi arsip kebudayaan.
Di situlah peran lembaga negara menjadi penting. Negara tidak perlu memberi tahu sastrawan apa yang harus ditulis. Sastra harus bebas bertanya, meragukan, mengkritik, bahkan sesekali membuat pejabat tidak nyaman.
Saya kira itu sehat. Kalau semua puisi membuat pejabat nyaman, mungkin kita perlu memeriksa kembali puisinya—atau pejabatnya.
Tugas lembaga kebahasaan dan kesastraan adalah merawat ekosistemnya. Memberi ruang. Menjaga keberagaman. Memperkuat guru dan komunitas. Mendokumentasikan pencapaian. Memberi pengakuan secara adil.
Kepada para penerima Anugerah Sutasoma tahun ini, saya menyampaikan selamat.
Namun, jangan anggap anugerah ini sebagai titik puncak.
Piagam suatu hari masuk lemari. Bunga akan layu. Foto seremoni akan digeser oleh foto-foto baru.
Yang bertahan adalah pekerjaan.
Buku berikutnya.
Murid berikutnya.
Diskusi berikutnya.
Komunitas yang tetap membuka pintu.
Puisi yang masih dibaca ketika nama kita sudah jarang disebut.
Ukuran paling jujur bagi sebuah penghargaan sastra bukan berapa lama tepuk tangan terdengar, melainkan berapa lama pekerjaan kita tetap berarti setelah tepuk tangan berhenti.
Siang ini, setelah penyerahan anugerah, kita akan berbicara tentang “Membangun Ekosistem Sastra di Jawa Timur”. Kata pentingnya ialah membangun.
Ekosistem tidak selesai dalam satu acara. Ia memerlukan ketekunan, kritik, generasi baru, dan kesediaan memberi ruang kepada suara yang belum terkenal. Kadang-kadang, ia juga memerlukan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kerja kebudayaan besar sering ditopang orang-orang yang tidak pernah masuk berita.
Sebelum mengakhiri sambutan, izinkan saya menyampaikan sebuah puisi pendek.
“Sesudah Nama Dipanggil”
Pagi ini beberapa nama dipanggil.
Mereka berdiri,
berjalan ke panggung,
menerima sebuah tanda
bahwa kerja mereka pernah dilihat.
Lalu acara selesai.
Lampu dipadamkan.
Kursi dikembalikan.
Bunga perlahan layu.
Namun, seorang guru
besok pagi masuk kelas lagi.
Seorang penyair
pulang membawa tiga larik
yang belum selesai.
Di sebuah kampung,
beberapa orang membuka buku
di hadapan tujuh orang pembaca.
Di tempat lain,
seseorang menulis
dalam bahasa ibunya
yang penuturnya makin sedikit,
seakan berkata kepada zaman:
kami masih di sini.
Mungkin di situlah
anugerah menemukan artinya.
Bukan ketika nama dipanggil,
melainkan ketika sesudah nama itu dipanggil,
pekerjaan tetap dilanjutkan.
Sebab sastra tidak hidup dari piala.
Ia hidup
ketika sebuah kalimat
berpindah dari satu manusia
kepada manusia lain,
lalu diam-diam
mengubah cara kita memandang dunia.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan