Sumber foto: FB Misterhanhan

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”. Penggalan kalimat karya Pidi Baiq itu terpampang di dinding jembatan penyeberangan Jalan Asia-Afrika, tidak jauh dari Gedung Merdeka, Bandung. Sejak dipasang pada 2015, tulisan tersebut menarik perhatian orang yang melintas. Ada yang berhenti untuk membacanya, ada yang berfoto, dan ada pula yang menjadikannya ungkapan kecintaan kepada Bandung. Letaknya menarik. Di tengah deru kendaraan, keramaian pejalan kaki, dan kesibukan sebuah kota, kalimat itu justru mengajak orang memikirkan sesuatu yang sangat pribadi: hubungan antara tempat dan perasaan.

Saya mengenali kota ini melalui pengalaman yang tidak selalu hadir dalam foto media sosial. Ada jalanan yang basah selepas hujan, angkot yang berhenti menunggu penumpang, lalu lintas yang merayap menjelang sore, dan percakapan sederhana yang kadang lebih lama tinggal dalam ingatan daripada peristiwa besar. Bandung yang dikenang dari kejauhan sering berbeda dari Bandung yang dijalani sehari-hari. Ketika berada di dalamnya, bahkan sebelum kemacetan bisa membuat kesal, hujan yang turun tiba-tiba dapat mengacaukan rencana. Setelah berjarak, hal-hal yang dahulu dianggap gangguan itu justru dapat menjadi bagian dari kerinduan. Barangkali pengalaman semacam inilah yang membuat ungkapan Pidi Baiq terasa dekat bagi banyak orang Bandung.

Kalimat tersebut kemudian memperoleh kehidupan yang lebih panjang. Ia menjadi bagian dari lagu Dan Bandung yang dibawakan The Panasdalam Bank bersama Danilla Riyadi pada 2019, sebagai salah satu lagu pengiring film Dilan 1991. Bertahun-tahun kemudian, Dan Bandung hadir sebagai novel yang diterbitkan pada 2026, lalu diangkat menjadi film arahan Rudi Soedjarwo yang mulai tayang pada 20 Agustus tahun yang sama.

Sebuah gagasan tentang hubungan manusia dengan kota bergerak dari tulisan di ruang publik menuju musik, halaman buku, dan layar bioskop. Hubungan ketiganya memang tidak sepenuhnya merupakan proses adaptasi yang berurutan. Lagu lahir dalam konteks karya yang berbeda, sedangkan film secara langsung mengadaptasi novel. Akan tetapi, ketiganya dipertemukan oleh gagasan yang sama tentang Bandung sebagai tempat yang menyimpan berbagai perasaan.

Perjalanan itu mengundang pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar perbedaan bentuk karya. Apa yang terjadi ketika pengalaman terhadap sebuah kota dinyanyikan, dikembangkan menjadi cerita, kemudian diperlihatkan melalui gambar bergerak? Apakah makna yang dibawa setiap medium tetap sama?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena sebuah kota dalam karya seni dapat memiliki kehidupan yang berbeda dari kota yang kita temukan pada peta. Bandung, dalam karya-karya Pidi Baiq, sering hadir melalui pengalaman manusia yang mencintai, kehilangan, mengingat, dan berusaha memahami kembali masa lalunya.

Kota yang Hidup dalam Sebuah Lagu

Dalam sebuah wawancara yang terbit pada 2017, Pidi Baiq menceritakan pengalaman ketika berada di Latvia, tidak jauh dari Rusia. Ia menikmati pemandangan yang indah, tetapi pikirannya justru kembali kepada Ciwastra, kawasan di Bandung yang menyimpan banyak pengalaman hidupnya. Ia mengingat banjir, jalan berlubang, pertengkaran, dan kisah cinta masa muda. Pengalaman serupa diceritakannya kembali dalam kegiatan di Universitas Pasundan pada 2022.

Tempat yang secara visual kurang menarik ternyata mempunyai kedudukan emosional yang lebih kuat daripada tempat yang sedang dikunjunginya. Dari pengalaman itulah, menurut penuturannya, lahir ungkapan tentang Bandung yang melampaui urusan geografis.

Cerita tersebut membantu kita memahami mengapa sebuah tempat dapat begitu berarti bagi seseorang. Keindahan pemandangan merupakan sesuatu yang dapat dilihat, sementara kedekatan emosional tumbuh melalui pengalaman. Orang dapat mengagumi sebuah kota tanpa pernah tinggal di dalamnya.

Sebaliknya, seseorang mungkin merindukan lingkungan yang memiliki banyak kekurangan karena di sanalah sebagian hidupnya pernah berlangsung. Kenangan membuat tempat memperoleh arti yang berbeda dari penampilan fisiknya. Ciwastra bagi Pidi Baiq menjadi contoh konkret tentang bagaimana pengalaman pribadi membentuk hubungan manusia dengan sebuah ruang.

Pengalaman itu memperoleh bentuk musikal melalui “Dan Bandung”. Dalam lagu tersebut, penyebutan wilayah dan geografi secara berulang dipertentangkan dengan perasaan yang terus menyertai seseorang. Secara kebahasaan, pertentangan tersebut cukup jelas: wilayah menunjuk tempat yang dapat ditentukan batasnya, sedangkan perasaan mengacu pada pengalaman yang tidak dapat dibatasi oleh letak geografis. Pengulangan gagasan itu menjadi pusat lirik. Pendengar terus dibawa kembali kepada hubungan antara keberadaan fisik seseorang dan tempat yang tetap hadir dalam ingatannya.

Kekuatan lagu tersebut semakin mudah dipahami jika kita memperhatikan hubungan kata dengan musik. Matt BaileyShea dalam Lines and Lyrics: An Introduction to Poetry and Song (2021) menjelaskan bahwa lirik memperoleh kualitas estetiknya melalui hubungan dengan melodi, irama, dan cara kata-kata dinyanyikan. Peter Dayan dalam Concise Handbook of Word and Music Studies (2025) juga membahas bagaimana kata dan musik saling memengaruhi dalam pembentukan makna.

Kedua pandangan tersebut membantu kita membaca “Dan Bandung” sebagai pengalaman musikal yang dibentuk melalui bahasa sederhana, pengulangan, aransemen pop-folk, dan suara Danilla yang menghadirkan suasana intim.

Kesederhanaan lirik Pidi Baiq perlu dilihat sebagai pilihan estetik. Ia menggunakan ungkapan yang mudah dipahami, sehingga pendengar segera dapat menghubungkannya dengan pengalaman sendiri. Pengulangan memungkinkan gagasan tersebut bertahan dalam ingatan, sedangkan musik memberi ruang bagi pendengar untuk merasakan sesuatu yang belum tentu dapat dijelaskan melalui kata-kata.

Namun, kesederhanaan juga memiliki keterbatasan. Secara tekstual, gagasan tentang kerinduan kepada sebuah tempat bukan sesuatu yang baru dalam sastra atau musik populer. Kekhasan “Dan Bandung” lebih terletak pada pertemuan ungkapan yang mudah diingat, pengalaman personal penciptanya, dan konteks budaya Bandung yang telah dikenal luas melalui karya-karya Pidi Baiq.

Di sini muncul persoalan yang menarik. Pengalaman yang semula sangat khusus dapat berubah menjadi pengalaman bersama. Seseorang yang tinggal di Yogyakarta, Surabaya, Makassar, atau Jayapura mungkin merasakan kedekatan emosional yang serupa terhadap kotanya. Mereka dapat memahami lagu “Dan Bandung” tanpa pernah mengalami kehidupan Pidi Baiq di Ciwastra.

Akan tetapi, kemampuan sebuah lagu membangkitkan pengalaman yang luas juga membawa risiko: Bandung dapat berubah menjadi lambang kerinduan yang terlalu umum sehingga kekhasan pengalaman kota itu semakin samar. Untuk mengembalikan perasaan kepada pengalaman yang lebih konkret, sebuah cerita membutuhkan manusia, hubungan sosial, peristiwa, dan konflik. Kemungkinan inilah yang menjadi penting ketika “Dan Bandung” hadir sebagai novel.

Ketika Perasaan Menjadi Cerita

Novel Dan Bandung yang terbit pada 2026 membuka kisahnya dengan ungkapan yang mengejutkan: “Basil dibunuh oleh Bandung.” Kalimat tersebut memperlihatkan perubahan suasana yang tajam dari lagu. Bandung yang sebelumnya dikenang sebagai tempat yang menemani kesunyian kini menjadi kota yang seolah-olah mencelakakan seseorang.

Di balik metafora itu terdapat kisah Basil, seorang pemuda yang kehilangan cintanya kepada Elma dan memilih meninggalkan Bandung. Kota yang menyimpan pengalaman percintaan mereka berubah menjadi tempat yang ingin dijauhinya.

Basil kemudian pergi ke Belanda dengan harapan dapat melepaskan diri dari kenangan yang menyakitkan. Di Amsterdam, ia bertemu Nadine, mahasiswi asal Indonesia yang justru membangkitkan kembali ingatannya kepada Elma. Usaha menjauh dari Bandung ternyata tidak membuat masa lalunya menghilang.

Basil akhirnya kembali ke kota yang ditinggalkannya, tetapi kepulangannya mempertemukan dirinya dengan kenyataan lain yang mengguncang kehidupannya. Berdasarkan rangkaian cerita yang dikemukakan dalam sinopsis penerbit, perjalanan ini mempertemukan perpindahan geografis dengan ketidakmampuan seseorang melepaskan diri dari pengalaman emosionalnya.

Di sinilah gagasan yang terdapat dalam lagu memperoleh pengembangan naratif. Kerinduan yang semula dinyanyikan sebagai perasaan terbuka kini mempunyai tokoh, penyebab, konflik, dan akibat. Pembaca diajak memahami bagaimana sebuah hubungan berakhir, mengapa seseorang ingin meninggalkan tempat tertentu, dan bagaimana peristiwa masa lalu tetap memengaruhi kehidupannya.

Novel memberikan kesempatan untuk menyelami hubungan antara tempat dan manusia melalui rangkaian peristiwa yang lebih panjang. Bandung mulai memperoleh arti melalui kehidupan Basil dan Elma.

Perjalanan Basil ke Amsterdam menarik karena memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak selalu sejalan dengan jarak emosional. Ia dapat meninggalkan Bandung, tetapi pengalaman tentang Elma tetap hadir dalam ingatannya. Pertemuan dengan Nadine menjadi pemicu munculnya kembali masa lalu yang ingin dilupakan.

Jika dibaca melalui pemikiran Edward S. Casey dalam Remembering: A Phenomenological Study (1987), pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana ingatan berkaitan dengan tempat dan pengalaman yang pernah dijalani. Ruang yang ditinggalkan secara fisik dapat terus hadir melalui sesuatu yang dijumpai seseorang di tempat lain.

Hans-Georg Gadamer menawarkan kemungkinan pembacaan yang lebih dalam. Dalam Truth and Method (1960), ia menjelaskan bahwa pemahaman seseorang selalu berlangsung dalam hubungan dengan pengalaman dan sejarah yang membentuk kehidupannya. Bandung yang dikenali Basil ketika mencintai Elma tentu berbeda maknanya dari Bandung setelah mereka berpisah. Kota yang sama dapat dipahami secara berbeda karena pengalaman orang yang mengalaminya telah berubah. Pembaca pun membawa sejarah hidup sendiri ketika memasuki cerita. Seseorang yang pernah kehilangan orang terdekat mungkin memahami kepulangan Basil secara berbeda dari pembaca yang lebih tertarik kepada perjuangan cintanya.

Namun, metafora bahwa Bandung telah membunuh Basil memerlukan pembacaan yang cermat. Kota tentu tidak memiliki kehendak untuk mencelakakan seseorang. Penderitaan Basil berhubungan dengan tindakan manusia, hubungan keluarga, perbedaan kedudukan sosial, dan berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupannya.

Bandung menjadi tempat berlangsungnya pengalaman tersebut. Ketika kota dinyatakan sebagai penyebab luka, terjadi pemindahan makna dari peristiwa manusia kepada ruang yang menyimpan peristiwa itu. Secara artistik, pemindahan tersebut menghasilkan ungkapan yang kuat. Secara kritis, kita tetap perlu membedakan sumber penderitaan tokoh dari tempat yang kemudian dikenangnya sebagai sumber penderitaan.

Perbedaan itu penting untuk memahami kedalaman cerita. Kerinduan terhadap sebuah kota memperoleh makna melalui hubungan manusia yang pernah berlangsung di dalamnya. Bandung tidak dapat dipisahkan dari Elma, sebagaimana Ciwastra dalam penuturan Pidi Baiq tidak dapat dipisahkan dari pengalaman masa mudanya.

Kota menjadi semacam wadah pengalaman. Hubungan antara manusia dan tempat ini memungkinkan sebuah ruang yang sama menyimpan kebahagiaan sekaligus penderitaan. Seseorang dapat merindukan tempat yang pernah membuatnya terluka karena tempat tersebut juga menyimpan bagian penting dari kehidupannya.

Ketika Cerita Memperoleh Wajah

Perjalanan Dan Bandung menuju layar lebar mempertemukan dunia cerita Pidi Baiq dengan penafsiran sinematik Rudi Soedjarwo. Sutradara yang dikenal melalui Ada Apa dengan Cinta? (2002) itu menggarap film berdasarkan skenario Titien Wattimena dan Pidi Baiq. Samo Rafael memerankan Basil, sedangkan Shanna Shannon memerankan Elma.

Film produksi Verona Films tersebut membawa kisah percintaan mereka ke dalam lingkungan mahasiswa, persahabatan, hubungan keluarga, dan kehidupan Kota Bandung. Perpindahan dari novel menuju film menuntut perubahan cara bercerita karena pengalaman yang sebelumnya dibangun melalui bahasa kini harus hadir melalui gambar, suara, dialog, musik, dan tindakan para pemain.

Salah satu peristiwa yang menjadi dasar perkembangan cerita adalah pertemuan Basil dengan Elma dalam sebuah pertandingan Persib. Basil, mahasiswa Seni Rupa yang mengelola usaha kaus bersama sahabat-sahabatnya, terpesona kepada Elma. Ia kemudian membuat desain kaus bergambar wajah perempuan itu dengan tulisan yang menghubungkannya dengan identitas bobotoh.

Kaus tersebut menjadi viral dan membuat wajah Elma tersebar luas. Elma merasa terganggu karena gambarnya digunakan tanpa persetujuan, lalu mendatangi Basil untuk meminta agar tindakan tersebut dihentikan. Dari pertemuan yang awalnya menimbulkan ketegangan, hubungan mereka kemudian berkembang menjadi percintaan.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana unsur lokal Bandung dapat bekerja sebagai penggerak cerita. Pertandingan Persib menyediakan ruang pertemuan Basil dan Elma, identitas bobotoh menjadi bagian dari ekspresi kreatif Basil, sedangkan penyebaran kaus memunculkan konflik yang mempertemukan kembali kedua tokoh. Hubungan sebab-akibatnya dapat ditelusuri.

Unsur kota pada bagian ini menjalankan fungsi naratif karena turut menentukan bagaimana hubungan antartokoh berkembang. Bukti tersebut lebih kuat daripada sekadar menunjukkan bahwa film menggunakan sejumlah lokasi terkenal di Bandung.

Ada persoalan lain yang layak diperhatikan dari peristiwa tersebut. Tindakan Basil mungkin dimaksudkan sebagai ungkapan kekaguman, tetapi Elma memiliki alasan untuk merasa terganggu. Persetujuan seseorang atas penggunaan wajahnya berbeda dari perasaan orang yang mengaguminya. Dua sudut pandang ini membuka kemungkinan konflik yang lebih kaya daripada sekadar pertemuan romantis.

Jika pengalaman Elma diberikan ruang yang memadai, cerita dapat memperlihatkan bagaimana cinta berhubungan dengan penghormatan terhadap kebebasan orang lain. Kualitas pengolahannya tentu bergantung pada bagaimana film mengembangkan konflik itu melalui dialog, tindakan tokoh, dan perubahan hubungan mereka.

Persoalan alih wahana juga tampak pada penyusunan waktu cerita. Produser Titin Suryani menjelaskan bahwa novel Dan Bandung menggunakan alur maju-mundur, sedangkan film disusun lebih linier agar mudah diikuti penonton. Keputusan ini mempunyai konsekuensi artistik yang penting. Alur maju-mundur memungkinkan peristiwa masa lalu muncul di sela-sela kejadian sekarang, suatu pola yang dekat dengan cara ingatan bekerja. Sebaliknya, alur linier menonjolkan perkembangan peristiwa dan hubungan sebab-akibat secara lebih berurutan. Pilihan tersebut dapat mengubah pengalaman pembaca atau penonton ketika mengikuti hubungan Basil dengan masa lalunya.

Sapardi Djoko Damono dalam Alih Wahana (2018) membantu kita memahami bahwa pemindahan karya dari satu medium ke medium lain selalu melibatkan perubahan cara pengungkapan. Linda Hutcheon dalam A Theory of Adaptation (2006) juga memandang adaptasi sebagai proses penafsiran dan penciptaan kembali. Dua pendekatan tersebut mengingatkan kita bahwa film tidak harus menyalin seluruh susunan novel.

Pertanyaan kritik yang lebih penting ialah apakah perubahan yang dilakukan menghasilkan penceritaan yang padu dan mampu menyampaikan pengalaman emosional tokoh secara meyakinkan. Alur linier mungkin memperjelas cerita, tetapi pemadatan atau perubahan urutan peristiwa tetap perlu diuji terhadap perkembangan karakter dan maknanya.

Keputusan lain berkaitan dengan penggunaan bahasa. Rudi Soedjarwo menjelaskan bahwa dialog berbahasa Sunda dalam film sengaja dibatasi agar cerita dapat menjangkau penonton dari berbagai daerah. Pertimbangan ini dapat dipahami karena Bandung merupakan kota yang dihuni masyarakat dengan latar kebahasaan beragam, termasuk mahasiswa dari luar Jawa Barat.

Akan tetapi, bahasa juga menjadi bagian dari pengalaman sosial sebuah kota. Pilihan kata, sapaan, humor, dan cara berbicara dapat memperlihatkan hubungan antarmanusia serta kedekatan mereka dengan lingkungan tempat tinggalnya. Pengurangan bahasa daerah memang tidak otomatis menghilangkan identitas lokal. Namun, keputusan itu menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada unsur sinematik lain untuk menghadirkan kekhasan budaya Bandung.

Jalan Braga, kawasan Asia-Afrika, lingkungan kampus, atau keramaian ruang publik dapat menyediakan penanda visual yang segera dikenali penonton. Meski begitu, gambar kota yang indah belum cukup untuk menunjukkan bahwa sebuah film berhasil menjadikan kota sebagai bagian penting dari ceritanya. Ukuran yang lebih tepat ialah fungsi ruang tersebut dalam membentuk tindakan, konflik, dan hubungan para tokoh.

Pertemuan Basil dan Elma melalui lingkungan bobotoh memberi contoh hubungan antara identitas lokal dan perkembangan cerita. Sebaliknya, gambar sebuah jalan yang tidak berkaitan dengan peristiwa atau pengalaman tokoh dapat berfungsi terutama sebagai pembangun suasana. Kedua fungsi itu sama-sama sah dalam sinema, tetapi mempunyai bobot naratif yang berbeda.

Dalam konteks ini, penting pula memperhatikan kehadiran kembali lagu “Dan Bandung”. Lagu yang sebelumnya dikenal melalui The Panasdalam Bank dan Danilla memperoleh versi baru melalui suara Shanna Shannon untuk film tahun 2026. Kehadirannya mempertemukan dua lapisan pengalaman penonton.

Mereka yang sudah mengenal lagu tersebut melalui Dilan 1991 mungkin membawa ingatan tentang Dilan dan Milea, sedangkan film baru menghubungkannya dengan Basil dan Elma. Sebuah lagu dapat memperoleh konteks emosional berbeda ketika digunakan untuk mengiringi cerita yang berbeda. Musik menjadi jembatan antara pengalaman menonton yang telah berlalu dan penafsiran baru yang dibangun oleh film.

Bandung yang Dibawa Pulang

Perjalanan Dan Bandung dari tulisan di ruang kota menuju lagu, novel, dan film memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan memperoleh kehidupan artistik melalui medium yang berbeda.

Lagu mengolah hubungan manusia dengan Bandung melalui kata dan musik. Novel memperluasnya menjadi pengalaman tokoh yang mencintai, kehilangan, meninggalkan, dan kembali. Film membangun kembali pengalaman itu melalui tubuh para pemain, ruang visual, dialog, dan suara.

Setiap medium menghasilkan cara mengalami cerita yang berbeda, meskipun ketiganya berhubungan melalui gagasan tentang Bandung sebagai tempat yang menyimpan perasaan.

Ada persoalan budaya yang lebih luas di balik perjalanan tersebut. Bandung telah lama menjadi ruang imajinasi dalam sastra, musik, dan film Indonesia. Melalui kisah Dilan dan Milea, misalnya, sejumlah tempat di Bandung memperoleh hubungan baru dengan pengalaman tokoh fiksi.

Jalan, sekolah, dan sudut kota yang sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari kemudian juga dikenal melalui cerita yang dibaca atau ditonton masyarakat. Pengunjung dapat mendatangi suatu tempat karena ingin mengenali kembali suasana yang pernah hadir dalam karya seni. Kota yang nyata dan kota yang dibentuk melalui imajinasi mulai saling memengaruhi.

Fenomena itu memperlihatkan kemampuan karya populer membentuk ingatan kultural. Orang dapat merasa akrab dengan sebuah tempat sebelum pernah mengunjunginya karena telah mengenalnya melalui novel, lagu, atau film. Pengalaman tersebut memberi nilai budaya kepada ruang kota, tetapi juga dapat menghasilkan gambaran yang sangat selektif.

Bandung dalam karya romantis cenderung tampil melalui suasana yang mendukung percintaan, kerinduan, dan kenangan. Sementara itu, kehidupan sehari-hari warganya memuat pengalaman yang jauh lebih beragam, termasuk kemacetan, persoalan lingkungan, pekerjaan, kesenjangan sosial, dan berbagai kesulitan yang jarang menjadi pusat cerita percintaan.

Saya merasa perbedaan itu perlu diingat. Bandung yang paling dekat dalam ingatan tidak selalu berada di tempat yang paling indah. Kadang justru jalan yang biasa dilewati, perubahan suasana ketika hujan mulai turun, atau sudut kota yang nyaris tidak diperhatikan menyimpan pengalaman paling kuat.

Orang bisa mengenang Bandung melalui Braga dan Gedung Merdeka, tetapi kedekatan dengan kota juga dapat tumbuh di gang permukiman, halte, pasar, atau lingkungan tempat seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap orang mempunyai peta emosionalnya sendiri. Dalam peta itu, tempat yang dianggap penting belum tentu merupakan tempat yang terkenal.

Pengalaman Pidi Baiq tentang Ciwastra kembali menjadi penting. Kerinduannya lahir dari keterlibatan dengan tempat yang menyimpan berbagai pengalaman, termasuk peristiwa yang kurang menyenangkan. Itulah sebabnya ungkapannya tentang Bandung memiliki dasar yang lebih kuat daripada gambaran kota romantis yang biasa ditemukan dalam promosi wisata. Ia berbicara tentang pengalaman hidup yang membentuk hubungan manusia dengan tempat.

Kisah Basil dalam Dan Bandung dapat dibaca melalui persoalan serupa: kota yang ditinggalkan karena menyakitkan justru tetap memiliki daya untuk menarik seseorang kembali. Ingatan tidak selalu memilih peristiwa yang menyenangkan untuk dipertahankan.

Di titik ini, hermeneutika Gadamer membantu memperluas pemahaman kita. Sebuah karya dipahami melalui perjumpaan antara pengalaman yang dibawanya dan pengalaman orang yang membacanya. Lagu “Dan Bandung” dapat berarti kerinduan bagi seseorang yang jauh dari rumah.

Setelah mengenal kisah Basil, lagu itu mungkin memperoleh warna kehilangan. Sesudah menonton filmnya, pendengar dapat membayangkan kembali wajah tokoh dan ruang kota yang hadir dalam cerita. Makna karya berkembang karena pengalaman orang yang menafsirkannya juga terus berubah. Bandung yang sama dapat hadir secara berbeda dalam ingatan setiap orang.

Namun, keberhasilan sebuah gagasan melintasi berbagai medium perlu dibedakan dari mutu artistik setiap karya yang mengolahnya. Popularitas Pidi Baiq, daya tarik Bandung, dan kedekatan emosional masyarakat dengan lagu tersebut tidak dapat dijadikan bukti tunggal keunggulan novel atau filmnya. Lagu perlu dibaca melalui hubungan lirik dan musik, novel melalui pengolahan bahasa serta struktur ceritanya, sedangkan film melalui kemampuan unsur audiovisual membangun pengalaman yang padu.

Kerinduan dapat menjadi bahan artistik yang kuat, tetapi pengolahannya tetap menentukan kualitas karya. Dengan ukuran tersebut, apresiasi terhadap kreativitas Pidi Baiq dapat berjalan bersama penilaian kritis terhadap pilihan dan keterbatasan masing-masing medium.

Barangkali itulah pelajaran terpenting dari Dan Bandung. Sebuah tempat memperoleh kehidupan dalam karya seni melalui pengalaman manusia yang terus ditafsirkan kembali. Lagu dapat membangkitkan sesuatu yang lama tersimpan, novel memberi pengalaman itu hubungan dan konflik, sedangkan film membuatnya hadir dalam gambar serta suara.

Karya seni kemudian memasuki kehidupan orang lain yang mungkin memiliki sejarah berbeda dengan penciptanya. Dari proses itulah sebuah kota dapat menjadi bagian dari ingatan bersama tanpa kehilangan kemungkinan untuk dimaknai secara pribadi.

Di dekat Gedung Merdeka, tulisan Pidi Baiq pada dinding jembatan Asia-Afrika pernah membuat orang berhenti di tengah perjalanan untuk membaca sebuah kalimat tentang Bandung. Sesudah ungkapan itu menempuh perjalanan panjang melalui lagu, novel, dan film, maknanya dapat kita pahami secara lebih luas.

Sebuah kota dikenang melalui cinta, kehilangan, persahabatan, pertengkaran, dan berbagai pengalaman yang pernah berlangsung di dalamnya. Kadang seseorang baru menyadari kedekatannya dengan suatu tempat setelah berada jauh darinya. Jarak membuat apa yang dahulu terasa biasa memperoleh makna baru.

Mungkin sebab itulah seseorang dapat pergi dari Bandung, sementara Bandung belum tentu pergi dari dirinya.

KA Muria, 29–30 Oktober 2026

Daftar Pustaka

BaileyShea, Matt. 2021. Lines and Lyrics: An Introduction to Poetry and Song. New Haven: Yale University Press.

Baiq, Pidi, Hendra Purnama, Reva Girvan, Muhammad Zidane, dan Zulfa Nasrulloh. 2026. Dan Bandung. Bandung: The Panasdalam Publishing.

Casey, Edward S. 1987. Remembering: A Phenomenological Study. Bloomington: Indiana University Press.

Damono, Sapardi Djoko. 2018. Alih Wahana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dayan, Peter. 2025. Concise Handbook of Word and Music Studies. Leiden: Brill.

Gadamer, Hans-Georg. 2004. Truth and Method. Edisi revisi kedua. Diterjemahkan oleh Joel Weinsheimer dan Donald G. Marshall. New York: Continuum. Karya asli diterbitkan pada 1960.

Hutcheon, Linda. 2006. A Theory of Adaptation. New York: Routledge.

Tinggalkan Balasan

Ganjar Harimansyah

Peneliti, dosen, dan perencana bahasa; bekerja di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen RI.