“Titian Jalak”

Ganjar Harimansyah

pada pohon wutong tua, 
sebuah purnama digantung rendah.
daun-daun menahan angin,
seolah Istana Giok pindah kontrakan.

katak di telaga tidak ribut,
seperti sesepuh yang sudah lebih mafhum
tentang hati yang mudah pindah ke lain tubuh
karena langit memang lebih jinak di air.

titian jalak malam ini pendek sekali:
dahan, sepatu, dan jam tangan sedikit nekat.
embun perak turun pelan;
kayu tua berderit seperti menahan tawa.

menjelang dini hari,
rahasia kecil terbuka:
rindu telanjur bekerja menurut kitab lamaโ€”
mengeja aksara tua dengan tergesa,
lalu pulang dengan lutut gemetar.

Tepi Danau Barat, Hangzhou, 2018

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari แชฅ ๐‹๐ข๐ง๐ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ญ๐ข๐ค-๐’๐š๐ฌ๐ญ๐ซ๐š๐ฐ๐ข แชฅ

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca