Ganjar Harimansyah

Literasi Digital: Setiap Orang adalah Pembelajar
Sisi positif dari pandemi Covid-19 telah membawa kita lebih akrab dengan dunia digital. Pekerjaan dan pembelajaran yang dilakukan secara daring (online) makin mendekatkan kita dengan berbagai perangkat yang serba digital. Untuk menyelesaikan pekerjaan, misalnya, dahulu kita pergi ke kantor untuk mengerjakan berbagai berkas, mengatur rapat, atau mengajukan permintaan tertulis ke pimpinan. Namun, saat ini untuk mengurus semua itu kita cukup mengakses berbagai aplikasi daring, mengunduh fail PDF, atau mengisi formulir presensi secara daring.
Seiring berkembangnya teknologi dan kebutuhan kita dengan peralatan digital, terutama dalam pembelajaran dan perolehan informasi, siswa dan guru tentu memerlukan keterampilan literasi digital yang berbeda. Pembelajaran di ruang kelas yang dipindahkan ke ruang Zoom dengan metode ceramah tunggal dan tanya-jawab seadanya bukanlah praktik pembelajaran yang efektif. Media digital sebagai media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) dengan teknologi digital sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Media digital itu harus sesuai dengan tingkat kematangan anak, bahasanya baik dan tepat, mendorong keaktifan siswa sejalan dengan isi pelajaran dan memudahkan dari segi teknik
Di sisi lain, pemaknaan literasi digital pun akan terus berubah dari waktu ke waktu (Lotherington dan Jenson, 2011). Namun, secara umum literasi digital dapat dimaknai sebagai keterampilan membaca dan menulis melalui format elektronik, mampu menganalisis dan mengintegrasikan informasi elektronik secara kritis, termasuk menggunakan data untuk bereksperimen, membuat pangkalan data (database), membuat laman, dan penerbitan daring (Cuban dan Cuban, 2007: 95—96).
Oleh karena itu, dalam lingkungan digital yang berubah dengan cepat dan perangkat yang diperbarui setiap saat, setiap orang dituntut menjadi pembelajar. Tentu hal itu menjadi pertimbangan penting ketika merancang instruksi dan dukungan untuk pembelajaran bahasa, baik untuk guru maupun siswa itu sendiri. Contoh teori belajar yang mendukung pengunaan media digital dalam pembelajaran bahasa adalah teori belajar konstruktivistik, teori belajar kognitif, teori belajar humanistik dan piaget, atau teori kecerdasan berganda.
Namun, tidak semua guru dituntut untuk mengetahui segala sesuatu tentang teknologi yang terus berubah dan menguasai keterampilan digital terkait yang diperlukan untuk literasi digital. Di ruang kelas, beberapa siswa yang memiliki keahlian dalam berbagai teknologi atau aplikasi dapat dijadikan tutor untuk siswa lain di kelas. Dalam situasi ini, peran guru bergeser: mereka lebih baik menjadi orkestra pembelajaran daripada pemberi keterampilan, melayani untuk memfasilitasi pembelajaran, dan menjadi pengolaboratif belajar antarsiswa (Vanek, 2014).
Keterampilan Digital Dasar dalam Pembelajaran Bahasa
Melek komputer yang sebenarnya tidak hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan membaca, menulis, penelitian, dan berkomunikasi. Hal ini melibatkan peningkatan kapasitas untuk mengakses, menganalisis, menafsirkan, memproses, dan menyimpan materi berbasis cetak dan multimedia secara kritis. Melek komputer juga melibatkan kemampuan untuk menemukan dan mengakses informasi dan kemampuan yang ditingkatkan untuk (1) membaca dan menceramti teks dalam pangkalan data komputer dan situs web serta (2) mengakses informasi dan gambar dalam berbagai bentuk, mulai dari grafik, gambar visual, hingga audio dan materi video, hingga media cetak lama yang bagus. Pembuatan situs web multimedia baru, basis data, dan teks memerlukan akses pengunduhan dan pengorganisasian materi verbal, imajistik, dan audio dan video digital sebagai bagian dari ranah baru untuk budaya multimedia (Snyder, 2002: 162).
Contoh paling mudah dari keterampilan digital dasar adalah mengoperasikan perangkat digital itu sendiri, seperti menghidupkan dan mematikan perangkat, menggunakan papan ketik dan tetikus (mouse), menggunakan panel sentuh, klik kanan dan kiri, atau mengklik dua kali di tetikus. Keterampilan ini juga mencakup mengetahui cara membuat, menyimpan, mencari, dan mengedit fail di komputer serta cara membuka, menggunakan, dan menutup berbagai aplikasi komputer. Keterampilan memanfaatkan aplikasi ini termasuk pemanfaatan mesin pencari (browser) untuk berselancar mencari berbagai bahan ajar di internet, aplikasi peta yang menyediakan petunjuk arah saat menyetir, dan aplikasi untuk memesan makanan. Keterampilan digital dasar juga termasuk memiliki keterampilan bahasa dan literasi yang diperlukan untuk melakukan berbagai hal di lingkungan digital, seperti mengirim tugas guru ke siswa atau mengerjakan tugas secara daring.
Dalam pembelajaran bahasa, kegiatan yang efektif dalam konteks literasi digital dasar adalah mengajarkan keterampilan komputer dasar sekaligus pengajaran bahasa. Seperti pembelajaran dengan pendekatan instruksional yang berpusat pada siswa, guru bisa melibatkan siswa secara aktif. Unit tematik, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan berpusat pada siswa lainnya dapat diarahkan untuk penguasaan keterampilan membaca dan menulis dengan menyediakan konten berisi tugas-tugas digital autentik. Sebagai contoh, unit berbasis masalah tentang masalah sewa-menyewa rumah dapat ditujukan untuk membaca informasi penting dan memahami hak dan kewajiban penyewa. Unit ini akan mencakup kosakata, tata bahasa, dan strategi membaca yang dibutuhkan untuk semua aktivitas, terutama berkas digital yang ada di gawai siswa. Dalam menyelesaikan tugas ini, siswa dapat menyelesaikan aktivitas pembelajaran yang spesifik, misalnya setelah mengetahui hak penyewa, siswa diminta membuat pengajuan keluhan tertulis dari kerusakan yang ada di rumah sewanya. Keterampilan literasi digital yang diperlukan dapat berupa pengunggahan foto sebagai data dukung, menyalin teks dari dokumen ke dalam formulir daring, dan mengirimkan formulir tersebut.
Menggunakan Teknologi untuk Memperluas Empat Keterampilan Berbahasa
Dalam kelas literasi digital harus melibatkan integrasi yang efektif dari literasi cetak dan literasi digital. Dalam pemanfatan keduanya banyak potensi yang dapat diperluas untuk pembelajaran bahasa di luar kelas (Snyder, 2008: 167). Aspek pembelajaran yang dikembangkan, misalnya, kemampuan untuk membuat dan mengomunikasikan informasi secara daring. Setiap proyek, topik, tema, atau pendekatan berbasis masalah dapat diperluas di internet untuk mengasah keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
Keterampilan Membaca
Dalam pembelajaran membaca dengan tujuan instruksional, teks daring menjadi bahan yang tepat. Sebagai contoh dalam pembelajaran bahasa Inggris, siswa mencocokkan bentuk tertulis dengan makna kata berdasarkan dukungan bahan ajar berupa gambar, pranala (hyperlink) ke arti kata (dalam bahasa Inggris), video ilustrasi, dan rekaman pengucapan kata. Mereka belajar kosakata saat mereka berinteraksi dengan berbagai aspek makna kata[1]. Format digital sangat berguna bagi siswa yang memperoleh kombinasi literasi cetak dan digital. Format multimedia dengan gambar dan suara pun dapat membantu siswa cepat memahami bacaan[2]. Setelah mempelajari sebuah cerita, siswa dapat mengakses cerita digital mereka sendiri dan melatih keterampilan membaca dan mendengarkan secara digital di luar kelas.
Keterampilan Menulis
Bagian penting dari belajar menulis adalah membuat tulisan dengan tujuan tertentu untuk pembaca khusus, bukan hanya untuk tugas yang diserahkan ke guru. Internet menawarkan akses pembelajaran menulis ke pembaca potensial yang luas. Misalnya, siswa dapat membuat buletin kegiatan pembelajaran dengan format PDF yang menjelaskan cara mencegah penyebaran Covid-19 saat pembelajaran tatap muka atau membuat video yang menunjukkan cara memasak makanan khas daerahnya. Yang penting dari contoh-contoh ini adalah bahwa siswa menggunakan keterampilan menulis mereka dengan menulis untuk pembaca autentik. Memfokuskan penulisan pada pembaca tertentu membantu siswa memilih format yang paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan pembaca yang dituju. Proyek penulisan semacam itu biasanya bersifat kolaboratif.
Teknologi berbasis tulisan, terutama yang melibatkan internet, memberikan banyak peluang bagi siswa untuk menjadi penulis. Format multimodal media daring untuk menulis karya sastra (novel, cerpen puisi), seperti blog dan cerita digital (Wattpad, JotterPad, Penana, dll.), adalah beberapa dari banyak sarana digital yang dapat digunakan siswa untuk berkarya di dalam dan di luar kelas—yang juga bisa dinikmati pembaca secara luas. Penggunaan Google Apps untuk kebutuhan pembelajaran menulis karya sastra di dalam kelas, baik daring maupun luring (offline, tata muka), bisa memanfaatkan Google Docs, Google Slide, Google Sites. Menulis untuk pembaca di luar kelas dapat membantu mengurangi kurangnya bersosialisasi yang menjadi ciri remaja sekarang dan menciptakan cara agar siswa dapat membangun dan mempertahankan identitas serta membangun komunitasnya sendiri.
Keterampilan Berbicara
Untuk mengasah keterampilan berbicara bahasa di luar kelas, siswa dapat membuat siniar (podcast)[3] sebagai bagian dari proyek kelas atau pendekatan instruksional lainnya. Membuat produk multimedia yang orisinal dapat memotivasi siswa saat mereka mempelajari kosakata dan tata bahasa yang diperlukan untuk mengomunikasikan pesan kepada pendengar di luar kelas, seperti siniar pendek tentang kunjungan ke museum untuk ditunjukkan kepada siswa di kelas lain; membuat presentasi PowerPoint tentang mencegah penyebaran Covid-19 untuk anggota masyarakat, atau mengembangkan informasi tentang budaya, makanan, bahasa, atau bagaimana anak-anak belajar mengaji Al-Quran di daerah mereka.
Keterampilan Mendengarkan
Banyak program siniar untuk menambah kesempatan mendengarkan hampir semua topik masalah[4]. Siniar tidak hanya dapat memberikan latihan mendengarkan, mereka juga dapat digunakan untuk mengajarkan berbagai strategi mendengarkan atau mencatat informasi tertentu untuk meningkatkan ketelitian instruksi yang didengarkan (misalnya, mendengarkan informasi spesifik, mendengarkan ide utama, membuat kesimpulan).
Literasi Media
Jumlah dan ragam informasi yang tersedia secara daring hampir takterduga. Informasi di internet dapat diunggah dengan tujuan macam-macam—yang positif tentu untuk menginformasikan, menjual, dan mendemonstrasikan, tetapi yang menyesatkan pun banyak. Sehubungan dengan itu, literasi media[5] harus paralel dengan literasi digital yang melibatkan beberapa keterampilan, termasuk kemampuan untuk (1) menemukan dan menafsirkan informasi daring dan (2) mengevaluasi keakuratan, keandalan, dan sudut pandang informasi di internet (Coiro, 2014). Contoh konkret literasi media seperti menemukan dan menafsirkan informasi daring melibatkan pencarian istilah yang efektif, memindai teks dan gambar secara spesifik, memilih pranala yang relevan, memilih sumber informasi, dan menafsirkan perspektif informasi. Keterampilan ini sangat diperlukan dalam pembuatan tugas siswa atau bahkan mahasiswa. Kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi informasi secara daring membutuhkan kepekaan dalam memilih apa yang penting serta pembacaan yang cermat dari beberapa elemen informasi di dalamnya. Dalam pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, beberapa halaman web biasanya sulit untuk dibaca dan ditafsirkan oleh siswa. Tentu, guru bisa berperan sebagai pendamping dalam hal ini.[6]
Selain itu, keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca secara daring tidak sama dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk membaca cetak (Wyatt-Smith dan Elkins, 2009). Membaca daring bersifat interaktif dan tidak berurutan dalam arti bahwa pembaca memerlukan keterampilan untuk memilih pranala yang ingin mereka ikuti dan video tersemat yang ingin mereka tonton. Pembaca daring perlu menentukan apakah akan kembali atau tidak dan melanjutkan membaca dari lokasi awal yang ditautkan. Semua itu dimungkinkan karena pembaca di internet dapat secara bebas memilih konten mereka sendiri, mencari informasi, dan membaca apa saja yang unik. Kegiatan intensif membaca ini sangat menantang bagi siswa karena mereka perlu membaca semua informasi pada halaman situs untuk dapat mengidentifikasi informasi yang mereka cari atau untuk memilih tautan yang sesuai untuk diikuti.
Strategi membaca juga penting dalam lingkungan digital, seperti strategi membaca cetak. Di dalamnya ada aktivitas melihat pratinjau, memprediksi, memahami konten, dan membuat koneksi dengan informasi lainnya. Siswa yang membaca konten di halaman web tertentu memerlukan kemampuan untuk membedakan fitur navigasi, iklan, dan konten bersponsor dari informasi di halaman tersebut. Selain itu, dalam lingkungan digital, sangat penting untuk menyadari pemikirannya sendiri dalam menggunakan strategi membaca untuk menemukan, mengevaluasi secara kritis, dan mensintesis informasi.
Selain menemukan dan menafsirkan informasi daring, siswa perlu mengembangkan keterampilan untuk mengevaluasi informasi di internet. Salah satu pendekatannya adalah dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kritis tentang maksud dan tujuan penulis dalam menciptakan pesan. Pertanyaan kritis dapat mengontrol dan memeriksa informasi daring yang memenuhi kerelevansian, keakurasian, dan keandalan (Coiro, 2014). Siswa dapat mempelajari cara mengajukan pertanyaan kritis tentang informasi daring dan menerapkan pertanyaan tersebut ke informasi daring, baik informasi itu berbahasa Indonesia, Inggris, maupun bahasa asing lainnya. Misalnya, siswa dapat ditugasi untuk menjawab serangkaian pertanyaan kritis tentang beberapa situs web tentang topik penanganan Covid-19 saat ini diberbagai negara kemudian siswa dapat diberikan pilihan untuk menggunakan situs web dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Keterampilan Literasi Digital dan Prasana Tingkat Lanjut
Untuk memanfaatkan teknologi digital semaksimal mungkin, siswa dan guru harus mampu memecahkan masalah di lingkungan digital. Mengembangkan keterampilan ini penting dalam berbagai konteks, termasuk di kelas, keluarga, dan masyarakat. Contoh konteks seperti itu adalah komunikasi antara sekolah dan orang tua yang telah beralih ke format pesan teks daring yang menjadikan lingkungan kita serba memanfaatkan teknologi terkini. Sekolah menggunakan situs web, blog, media sosial (Whatsapp, Instagram, Facebook, dll.), dan teknologi lainnya untuk menyebarkan informasi sekolah dan berkomunikasi dengan orang tua. Orang tua yang tidak akrab dengan dunia digital mungkin mengalami kesulitan karena kemampuan literasi digital mereka yang terbatas.
Memecahkan masalah di lingkungan yang serba memanfaatkan teknologi memerlukan analisis berbagai persyaratan untuk menemukan solusi, menetapkan tujuan dan rencana yang tepat, memantau kemajuan seseorang, beradaptasi dengan hambatan, dan menjaga agar tujuan tercapai atau sampai resolusi untuk mengatasi masalah tercapai. Hal ini tentu erat kaitannya dengan pengembangan keterampilan literasi informasi dan media.
Pemecahan masalah kolaboratif di lingkungan tersebut merupakan bagian dari keterampilan generasi berikutnya yang dibutuhkan untuk menjadi orang dewasa yang melek digital. Kolaborasi untuk tujuan pekerjaan dan pendidikan semakin banyak dilakukan di lingkungan digital. Kolaborasi ini membutuhkan seperangkat keterampilan bahasa dan digital baru, seperti konvensi untuk mendapatkan perhatian peserta, isyarat untuk mengonfirmasi bahwa seseorang mendengarkan, indikasi persetujuan atau ketidaksetujuan, mengetahui bagaimana memulai dan mengakhiri aplikasi perangkat lunak yang digunakan untuk berkomunikasi, dan konvensi untuk penulisan kolaboratif. Ada berbagai cara untuk mengintegrasikan keterampilan ini ke dalam pengajaran bahasa. Misalnya, dalam unit komunikasi di tempat kerja. Keterampilan interaktif yang digunakan dalam aktivitas seperti itu—seperti bergiliran, memberikan pendapat, mengungkapkan persetujuan atau ketidaksetujuan, dan mendengarkan secara aktif—memberikan peluang untuk menggunakan bahasa yang mencerminkan situasi kerja dalam dunia nyata.
Ketika peran guru bergeser, begitu juga dukungan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Guru membutuhkan waktu untuk bekerja sama dan menentukan cara baru dalam mengatur pembelajaran, waktu untuk pengembangan profesional yang berkaitan dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam pengajaran, dan dukungan untuk kebijakan yang memungkinkan perangkat portabel digunakan secara efektif di dalam kelas. Jika pembelaran masih di rumah, tentu guru juga memerlukan perangkat yang memadai di rumah. Guru juga membutuhkan dorongan untuk terus mencoba pendekatan baru dengan teknologi yang berkembang dan literasi terkait. Dukungan administratif juga diperlukan agar guru dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan seperti pertukaran antarkelas dan memperluas koneksi digital dan tatap muka. Infrastruktur yang kuat dan dukungan teknis yang andal dan mudah diakses bagi siswa dan guru menjadi hal yang urgen dalam pembelajaran bahasa di era digital.
Penutup
Untuk memanfaatkan peluang yang dihadirkan teknologi agar pembelajaran bahasa lebih efektif, siswa dan guru bagaimanapun perlu mengembangkan keterampilan literasi digital—termasuk keterampilan digital dasar, kemampuan untuk membuat dan mengomunikasikan informasi digital, kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi informasi secara daring, dan kemampuan untuk memecahkan masalah di lingkungan yang memanfatkan teknologi digital.
Memastikan siswa menerima dan terlibat dalam literasi digital yang bermakna dan relevan membutuhkan pemikiran yang komprehensif di tingkat nasional, lokal, dan secara praktis di kelas. Guru dan pihak pimpinan sekolah perlu mengintegrasikan peluang untuk mengembangkan literasi digital ke dalam pelajaran, kurikulum, dan proyek di kelas. Pengintegrasian literasi digital ini juga perlu pemikiran tingkat nasional untuk memperluas konsep pengajaran dan pembelajaran keterampilan literasi digital. Mereka perlu memberikan dukungan di setiap tingkat pendidikan.
Kegiatan, program, atau layanan yang dirancang untuk membantu individu memperoleh kombinasi keterampilan akademik dasar, keterampilan berpikir kritis, dan keterampilan literasi digital—termasuk kompetensi dalam memanfaatkan sumber daya teknologi, menggunakan informasi daring, bekerja sama dengan orang lain, memahami sistem, dan memperoleh keterampilan dalam penyelesaian pendidikan setelah lulus, atau prediksi karier yang akan digeluti. Pemanfataan teknologi digital harus terus berkembang seiring dengan berkembangnya literasi digital. Dalam dunia literasi digital, setiap orang adalah pembelajar.
Daftar Bacaan
Coiro, Julio. 2014. “Teaching Adolescents How to Evaluate the Quality of Daring Information”. Edutopia. dalam http://www. edutopia.org/blog/evaluating-quality-of-daring-infojulie-coiro, dimutakhirkan 29 Agustus 2017.
Cuban, S. dan Cuban, L. 2007. Partners in Literacy: Schools and Libraries Building Communities Through Technology. New York: Teachers College Press.
Lotherington, H., dan Jenson, J. 2011. “Teaching Multimodal and Digital Literacy in L2 Settings: New Literacies, New Basics, New Pedagogies”. Annual Review of Applied Linguistics, Volume 31, hlm.: 226–246. DOI: https://doi.org/10.1017/S0267190511000110.
Snyder, Ilana. (Ed.). 2002. Silicon Literacies: Communication, Innovation and Education in The Electronic Age. London: Routledge.
Snyder, Ilana. 2008. The Literacy Wars: Why Teaching Children to Read and Write is A Battleground in Australia. Crows Nest, Australia: Allen & Unwin.
Vanek, Jen. 2014. “Open Educational Resources: New Technologies and New Ways of Learning”. Minnetesol Journal, Volume 30, dalam https://minnetesoljournal.org/journal-archive/mtj-2014-2/open-educational-resources-new-technologies-and-new-ways-of-learning/
[1] GCF Learn Free (http://www.gcflearnfree.org/reading/learnenglish) adalah contoh kegiatan pembelajaran kosakata interaktif secara daring.
[2] Contoh pembaca daring literasi ESL (https://esl-literacy.com/readers) diproduksi oleh Jaringan Literasi ESL (English as a Second Language) Kanada.
[3] Siniar (podcast) adalah fail audio yang direkam dan disimpan secara daring untuk didengarkan atau diunduh orang lain. Audacity (http://audacity.sourceforge.net) adalah contoh perangkat lunak siniar gratis yang mudah dipelajari dan digunakan oleh siswa dan guru.
[4] Misalnya, elllo (http://www.elllo.org) menawarkan lebih dari 1.300 siniar untuk pembelajar bahasa Inggris dalam berbagai topik, dengan berbagai tingkat kesulitan, dan menggunakan suara yang berbeda. Setiap siniar pendek memiliki aktivitas pemahaman dan kosakata yang terkait.
[5] Istilah ini dapat juga disebut literasi informasi, literasi web, atau literasi internet.
[6] Beberapa situs menyediakan informasi yang sesuai untuk pelajar dan guru bahasa Inggris tentang pencarian di internet yang efektif, seperti Digitallearn.org (http://digitallearn.org) dan GCF Learn Free (http://www.gcflearnfree.org/internet101/5).

Tinggalkan Balasan