Ganjar Harimansyah

Setiap 1 Muharam, umat Islam memasuki tahun baru Hijriah. Pada hari seperti ini, kalender terasa lebih dari sekadar hitungan waktu. Ia menjadi cermin: dari mana umat berangkat, ke mana hidup diarahkan, dan nilai apa yang layak dibawa ke tahun berikutnya. Di tengah kebiasaan merayakan pergantian tahun dengan doa, ceramah, atau perenungan singkat, kita bisa merasakan buku Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, memberi sudut pandang yang lain. Hodgson tidak menulis buku tuntunan ibadah, juga tidak menyusun sirah Nabi dalam bentuk populer. Ia membaca Islam sebagai gerak nurani dalam sejarah dunia.

Buku ini terbit sesudah Hodgson wafat. Volume pertamanya berjudul The Classical Age of Islam. Dari judul besarnya, tampak gagasan utama yang ingin ia ajukan: Islam adalah “ventura”, sebuah ikhtiar besar yang mengandung harapan, risiko, keberhasilan, dan kegagalan manusia dalam membangun kehidupan berdasarkan iman. Frasa “conscience and history” menjadi kunci. Agama tidak diletakkan sebagai doktrin yang melayang di atas kehidupan, melainkan sebagai kekuatan batin yang masuk ke dalam sejarah, membentuk manusia, masyarakat, lembaga, hukum, ilmu, seni, dan peradaban (Hodgson, 1974).

Dalam kerangka itulah 1 Muharam memperoleh makna yang lebih tajam. Tahun pertama kalender Islam dihitung dari hijrah, peristiwa ketika Nabi Muhammad berpindah dari Makkah ke Madinah dan secara efektif membentuk komunitas Muslim. Hodgson menjelaskan bahwa kalender Islam bersifat lunar dan dipakai terutama untuk keperluan ritual serta historis. Penjelasan ini sederhana, tetapi kandungan maknanya dalam. Awal waktu Islam tidak ditandai oleh kelahiran seorang tokoh, kemenangan militer, atau naiknya penguasa ke takhta. Awal waktu Islam ditandai oleh lahirnya komunitas beriman.

Pilihan itu menyimpan hikmat besar. Umat Islam mengawali hitungan sejarahnya dari peristiwa perpindahan yang menghasilkan tatanan baru. Hijrah bukan gerak menghindar dari kenyataan. Hijrah adalah keberanian memasuki kenyataan dengan bekal iman, kesabaran, dan visi sosial. Dalam pembacaan Hodgson, perpindahan ke Madinah membuka kesempatan untuk membangun bentuk kehidupan bersama yang lebih sesuai dengan tuntutan wahyu. Kesalehan pribadi dipanggil untuk menemukan bentuk sosialnya. Iman tidak berhenti sebagai bisikan batin, tetapi bergerak menjadi tanggung jawab terhadap yang lemah, pengendalian terhadap yang kuat, dan penataan hubungan antarmanusia (Hodgson, 1974).

Bagian “The Islamic Vision in Religion and in Civilization” amat penting untuk membaca hikmat ini. Hodgson mengutip gagasan Al-Qur’an tentang umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Menurutnya, umat Islam sejak awal menanggapi panggilan itu dengan membangun bentuk masyarakat baru. Dari panggilan iman itu lahir lembaga, tradisi keilmuan, kesusastraan, seni, hukum, tata sosial, serta bentuk politik yang membawa jejak Islam (Hodgson, 1974). Di sini 1 Muharam mengingatkan umat bahwa Islam bukan identitas pasif. Islam adalah amanah untuk membentuk sejarah secara bermoral.

Kata “venture” juga penting direnungkan. Hodgson melihat sejarah Islam sebagai usaha besar yang selalu terbuka pada keberhasilan dan kegagalan. Umat Islam pernah melahirkan capaian luhur dalam ilmu, hukum, sastra, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Pada saat yang sama, sejarah Islam juga memuat ketegangan, perpecahan, dan penyimpangan dari cita-cita awalnya. Pandangan ini terasa jujur. Ia mengajak umat Islam merayakan 1 Muharam tanpa romantisme kosong. Tahun baru Hijriah bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu, melainkan menilai kembali jarak antara cita-cita Islam dan kenyataan hidup umat.

Hodgson memberi pelajaran penting bagi cara membaca sejarah agama. Ia menolak melihat Islam semata-mata sebagai kumpulan aturan. Islam, dalam kenyataan historisnya, membangun pola kehidupan menyeluruh. Ia menyentuh ibadah, hukum, pendidikan, etika sosial, dan pandangan tentang manusia. Meski begitu, Hodgson juga mengingatkan bahwa peradaban Muslim lebih luas daripada agama dalam arti sempit. Di dalamnya ada seni, perdagangan, politik, kebudayaan lokal, dan pengalaman manusia yang beraneka. Refleksi 1 Muharam dapat mengambil pelajaran dari keseimbangan itu: agama perlu memberi arah, sementara sejarah manusia selalu memerlukan kebijaksanaan, keluwesan, dan tanggung jawab.

Bagi umat Islam masa kini, hikmat 1 Muharam dapat disebut sebagai keberanian memperbarui orientasi. Hijrah pada zaman Nabi melahirkan komunitas yang menata ulang hubungan manusia berdasarkan iman. Hijrah pada masa kini dapat berarti keberanian meninggalkan kebiasaan yang merusak, cara berpikir yang sempit, ibadah yang kehilangan dampak sosial, serta kehidupan bersama yang miskin keadilan. Umat tidak cukup merasa bangga sebagai pewaris sejarah Islam. Umat perlu meneruskan “ventura” itu dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman: pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang berkeadilan, bahasa publik yang santun, politik yang amanah, dan kehidupan digital yang beradab.

Membaca Hodgson pada 1 Muharam membuat tahun baru Hijriah terasa lebih luas daripada seremoni. Ia mengubah pertanyaan “tahun baru ini ingin berdoa apa?” menjadi “sejarah baru apa yang ingin dibangun?” Doa tetap penting sebagai sumber ketundukan kepada Allah. Akan tetapi, doa memperoleh daya sejarah ketika ia menuntun manusia membenahi dirinya, keluarganya, lembaganya, dan masyarakatnya.

Pada akhirnya, 1 Muharam adalah panggilan untuk memulai lagi dengan kesadaran yang lebih jernih. Hijrah mengajarkan bahwa iman membutuhkan arah. Komunitas membutuhkan etika. Sejarah membutuhkan nurani. Seperti itulah kiranya pesan besar yang dapat dipetik dari The Venture of Islam. Islam hadir dalam sejarah sebagai ikhtiar membangun kehidupan yang lebih dekat kepada kehendak Allah dan lebih bermartabat bagi manusia. Tahun baru Hijriah menjadi bermakna ketika umat berani menjadikan waktu sebagai amanah, bukan sekadar angka di kalender.

Daftar Pustaka

Hodgson, Marshall G.S. 1974. The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization. Volume 1: The Classical Age of Islam. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Linguistik-Sastrawi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca