Ganjar Harimansyah
di stasiun kecil itu
malam turun pelan-pelan
seperti tinta abu-abu
meluber di meja langit.
salju jatuh tanpa bunyi,
seakan angin sedang belajar
menulis huruf putih
di bahu jaket, di rel, di bangku.
lampu peron menyala redup,
kuningnya rapuh, renta dan tua.
dari kabut, kereta terakhir muncul perlahan,
seperti iblis yang melayang:
mata pisaunya lebih dulu tiba,
memastikan sunyi belum tertidur.
tak ada peristiwa besar
menjelang keberangkatan ini.
hanya uap tipis di secangkir teh
dan dunia yang sibuk membeku,
menguatkan hati dari dingin dan gigil.
Lauterbrunnen, 11032003/2026

Tinggalkan Balasan