Ganjar Harimansyah

Ada saat ketika sebuah kalimat terdengar lebih sahih bukan karena isinya lebih benar, melainkan muncul dari orang yang โberhakโ mengucapkannya. Ucapan seorang pejabat dalam konferensi pers, penilaian dosen di ruang ujian, putusan hakim di ruang sidang, nasihat ahli di layar televisi, atau komentar tokoh publik di media sosial sering bekerja dengan cara demikian. Kata-kata memperoleh bobot dari gelar, jabatan, gaya bicara, aksen, busana, tempat, dan lembaga yang menopangnya. Di titik inilah Pierre Bourdieu (1930โ2002) masuk dengan pertanyaan yang sederhana sekaligus tajam: siapa yang berhak berbicara, dalam keadaan apa ucapan itu dipercaya, dan mengapa sebagian orang merasa wajar ketika suaranya dianggap kurang bernilai?
Pertanyaan itu menjadi pusat pembacaan terhadap Language and Symbolic Power (1991). Buku ini dapat dibaca sebagai pintu masuk terbaik untuk memahami Bourdieu sebagai pemikir bahasa. Ia menggeser perhatian dari bahasa sebagai sistem tanda menuju bahasa sebagai praktik sosial. Bagi Bourdieu, bahasa bukan sekadar tata bahasa, kosakata, atau kemampuan menyusun kalimat. Bahasa selalu bergerak di dalam dunia sosial yang sudah tersusun oleh kelas, lembaga, pendidikan, negara, dan distribusi prestise. Ucapan seseorang memperoleh โhargaโ dalam โpasar bahasaโ tertentu. Kalimat yang sama dapat terdengar cerdas di ruang seminar, terdengar kaku di warung kopi, atau dianggap kurang sopan di ruang birokrasi. Makna selalu datang bersama posisi sosial pembicara dan pendengarnya (Bourdieu, 1991).
Di sinilah kritik Bourdieu terhadap linguistik formal menemukan tenaganya. Saussure dan Chomsky, dalam pandangan Bourdieu, memberi sumbangan besar bagi kajian bahasa, terutama dalam memahami sistem dan kompetensi. Akan tetapi, model semacam itu cenderung membayangkan bahasa sebagai milik bersama yang setara. Bourdieu menyebut bayangan itu sebagai ilusi โkomunisme linguistikโ. Seolah-olah semua penutur memiliki akses yang sama terhadap bahasa yang sah, cara berbicara yang diakui, dan situasi komunikasi yang menguntungkan. Kenyataan sosial bekerja lebih keras daripada asumsi itu. Bahasa resmi terbentuk melalui sejarah negara, sekolah, pasar kerja, administrasi, penerbitan, dan lembaga kebudayaan. Dialek, ragam lokal, aksen kelas bawah, atau tuturan yang dianggap โkurang bakuโ tersisih bukan karena miskin makna, melainkan karena kalah dalam pertarungan legitimasi (Bourdieu, 1991).
Konsep โpasar bahasaโ membuat gagasan Bourdieu terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Di pasar ekonomi, barang memiliki harga. Di pasar bahasa, ucapan juga memiliki nilai. Nilai itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, di mana ia berbicara, kepada siapa ia berbicara, dan dalam institusi apa ujaran itu beredar. Seseorang yang fasih berbicara dalam ragam resmi biasanya lebih mudah memperoleh pengakuan di sekolah, kampus, kantor, atau ruang negara. Kefasihan itu sering disebut bakat, kecerdasan, atau kepribadian unggul. Bourdieu mengajak pembaca melihat lapisan yang tersembunyi: kefasihan tersebut kerap merupakan hasil pewarisan modal budaya sejak rumah, lingkungan sosial, dan pendidikan awal (Bourdieu, 1986; Bourdieu dan Passeron, 1990).
Dari sini, Language and Symbolic Power (1991) bertemu dengan Reproduction in Education, Society and Culture (1990). Sekolah sering dipuji sebagai jalan mobilitas sosial. Bourdieu membaca sekolah dengan kacamata yang lebih curiga. Sekolah memberi kesan netral karena semua peserta didik menjalani ujian yang sama, kurikulum yang sama, dan ukuran kelulusan yang sama. Namun, ukuran yang sama itu lebih mudah ditaklukkan oleh mereka yang sejak awal sudah akrab dengan bahasa sekolah: cara bertanya, cara menjawab, cara menulis, cara mengutip, cara menampilkan diri, bahkan cara menunjukkan rasa percaya diri. Ketika modal budaya keluarga kelas dominan tampil sebagai โkemampuan alamiahโ, sekolah ikut mengesahkan ketimpangan sebagai prestasi individual (Bourdieu dan Passeron, 1990).
Di titik ini muncul istilah yang paling terkenal sekaligus paling mengganggu dari Bourdieu: kekerasan simbolik. Kekerasan ini tidak selalu berwujud bentakan, larangan, atau pukulan. Ia bekerja secara lembut, sering tanpa terasa, melalui pengakuan terhadap tatanan yang sebenarnya timpang. Orang yang dikuasai ikut menerima ukuran yang merugikannya karena ukuran itu tampil sebagai sesuatu yang wajar, sah, dan alamiah. Seorang anak yang merasa โmemang bodohโ karena tidak menguasai bahasa sekolah sedang mengalami kekerasan simbolik. Seorang penutur daerah yang malu memakai aksennya di ruang resmi sedang masuk ke dalam mekanisme yang sama. Seorang pegawai yang merasa pendapatnya kurang layak karena tidak mampu memakai jargon birokrasi juga menghadapi bentuk halus dari dominasi itu (Bourdieu, 1991; Burawoy, 2019).
Kekuatan Bourdieu terletak pada kemampuannya menghubungkan bahasa dengan tubuh sosial. Dalam Outline of a Theory of Practice (1977), ia merumuskan habitus sebagai disposisi yang terbentuk melalui pengalaman panjang. Habitus membuat seseorang tahu โrasa permainanโ tanpa selalu mampu menjelaskannya secara teoretis. Orang tahu kapan harus diam, kapan boleh menyela, kata apa yang aman, gaya apa yang berisiko, dan intonasi apa yang dianggap pantas. Habitus bukan nasib yang tertutup. Ia memberi kecenderungan, bukan skenario mutlak. Dalam medan sosial yang berbeda, habitus dapat mengalami ketegangan, keterlambatan, atau penyesuaian. Oleh karena itu, bahasa dalam kerangka Bourdieu selalu menjadi praktik dari hasil pertemuan antara disposisi pembicara, modal yang dimilikinya, dan medan tempat ia berbicara (Bourdieu, 1977; Bourdieu, 1990).
Gagasan itu membuat pembacaan terhadap kuasa menjadi lebih rumit. Kuasa simbolik bukan sekadar propaganda dari atas. Ia bekerja karena ada pengakuan dari banyak pihak. Gelar akademik diakui, ijazah diakui, bahasa resmi diakui, aksen tertentu dianggap berwibawa, dan gaya tulisan tertentu dianggap ilmiah. Pengakuan itu memberi daya pada lembaga. Pada saat yang sama, lembaga memperkuat kembali pengakuan tersebut. Inilah lingkaran halus yang ingin dibongkar Bourdieu. Kuasa bertahan karena ia jarang tampil sebagai kuasa. Ia tampil sebagai kepantasan, kesopanan, kecerdasan, profesionalisme, standar mutu, atau tradisi.
Dalam Homo Academicus, Bourdieu (1988) membawa pisau analisis itu ke dunianya sendiri: kampus dan intelektual. Buku ini penting karena Bourdieu tidak membiarkan akademisi berdiri sebagai hakim yang bersih di luar arena. Kampus juga medan pertarungan. Gelar, jabatan, jurnal, kutipan, jaringan, aliran teori, dan gaya menulis adalah modal simbolik. Bahasa akademik dapat membuka pengetahuan, dapat pula menutup akses. Tulisan yang rumit kadang diperlukan untuk ketepatan konsep, kadang menjadi pagar simbolik yang memisahkan โyang ahliโ dari โyang awamโ. Bourdieu menuntut refleksivitas: ilmuwan perlu memeriksa posisi sosialnya sendiri ketika memeriksa masyarakat (Bourdieu, 1988).
Pembacaan terhadap Bourdieu sering berhenti pada kesan muram: masyarakat seolah hanya mesin reproduksi ketimpangan. Kesan itu kurang adil. Bourdieu memang menjelaskan daya tahan dominasi, tetapi ia juga memberi alat untuk membaca perubahan. Ketika pasar berubah, medan bergeser, modal baru diakui, dan kelompok yang tersisih mulai menamai pengalaman mereka dengan bahasa sendiri, retakan dapat muncul. Kesadaran kritis lahir ketika orang melihat bahwa ukuran yang selama ini dianggap alamiah sebenarnya hasil sejarah. Dari sini, kajian bahasa memperoleh tugas politik: membongkar siapa yang menentukan bahasa sah, siapa yang diuntungkan oleh standar itu, dan siapa yang kehilangan suara karenanya (Gorski, 2013).
Bagi masyarakat multibahasa, Bourdieu memberi pelajaran penting. Bahasa nasional, bahasa daerah, bahasa asing, bahasa akademik, bahasa birokrasi, dan bahasa digital hidup dalam relasi kuasa yang tidak rata. Setiap bahasa membawa peluang, harga, dan risiko. Tantangannya bukan sekadar memilih satu bahasa melawan bahasa lain. Tantangan yang lebih mendasar ialah membangun ruang sosial yang membuat berbagai modal linguistik itu dapat diakui secara adil. Bahasa resmi tetap diperlukan untuk administrasi, pendidikan, dan persatuan bangsa. Pada saat yang sama, bahasa resmi perlu dikelola tanpa merendahkan ragam lain yang menjadi rumah pengalaman warga.
Memang, Bourdieu mengajarkan bahwa bahasa selalu lebih luas daripada kata. Di balik ujaran ada sekolah, keluarga, negara, kelas sosial, sejarah, dan lembaga yang memberi nilai pada cara berbicara. Membaca Bourdieu berarti belajar mendengar suara yang dianggap kurang fasih, kurang ilmiah, kurang baku, atau kurang berwibawa. Barangkali di sana tersimpan pengalaman sosial yang selama ini kalah sebelum sempat berbicara. Kuasa simbolik bekerja ketika dunia menerima ketimpangan sebagai kewajaran. Kritik dimulai ketika kewajaran itu diberi nama.
Daftar Pustaka
Bourdieu, Pierre. 1977. Outline of a Theory of Practice. Translated by Richard Nice. Cambridge: Cambridge University Press.
Bourdieu, Pierre. 1986. โThe Forms of Capital.โ Dalam John G. Richardson, ed. Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. Westport, CT: Greenwood Press, 241โ258.
Bourdieu, Pierre. 1988. Homo Academicus. Translated by Peter Collier. Stanford, CA: Stanford University Press.
Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice. Translated by Richard Nice. Cambridge: Polity Press.
Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Edited and introduced by John B. Thompson. Translated by Gino Raymond and Matthew Adamson. Cambridge: Polity Press.
Bourdieu, Pierre, and Jean-Claude Passeron. 1990. Reproduction in Education, Society and Culture. Translated by Richard Nice. 2nd ed. London: Sage.
Burawoy, Michael. 2019. Symbolic Violence: Conversations with Bourdieu. Durham and London: Duke University Press.
Gorski, Philip S., ed. 2013. Bourdieu and Historical Analysis. Durham and London: Duke University Press.
Maggio, Rodolfo. 2017. An Analysis of Pierre Bourdieuโs Outline of a Theory of Practice. London: Macat International Ltd.

Tinggalkan Balasan