Ganjar Harimansyah

Sumber gambar: https://people.com/hugh-jackman-death-of-robin-hood-trailer-11879395
Dalam film, Robin Hood datang dengan pakaian zamannya sendiri. Pada satu masa ia tampil sebagai pemanah lincah di hutan hijau. Pada masa lain ia menjadi bangsawan terusir, pembela orang miskin, pahlawan keluarga, parodi, prajurit pulang perang, atau sosok tua yang lelah oleh cerita tentang dirinya sendiri. Ia bertahan karena legenda memberi ruang bagi perubahan. Tokoh ini seperti hutan: setiap orang masuk dari jalan yang berbeda, lalu keluar dengan membawa Robin Hood yang berbeda pula.
Lesley Coote (2020) menyebut dunia Robin Hood sebagai storyworld, yakni gugusan cerita, tempat, tokoh, benda, gagasan, dan tafsir yang terus dipilih ulang oleh penulis, seniman, pembaca, penonton, serta para pengulasnya. Di dalam dunia cerita semacam itu, Robin Hood bukan tokoh tunggal yang selesai sejak awal. Ia ialah kemungkinan yang terus diperbarui. Setiap zaman mengambil unsur tertentu dari legenda itu, lalu menyingkirkan unsur lain yang dirasa kurang sesuai dengan kebutuhan zamannya.
Coote juga mengingatkan bahwa rumusan paling populer tentang Robin Hood sebagai orang yang โmerampok orang kaya untuk memberi orang miskinโ bukan gambaran utuh cerita awal. Dalam kisah abad pertengahan dan awal Tudor, Robin dan kawanan Merry Men memang pencuri, menyimpan barang rampasan di hutan, serta memberi pertolongan kepada orang yang mereka temui karena alasan tertentu. Gambaran modern tentang Robin sebagai pahlawan pajak dan pembela kaum miskin merupakan hasil penafsiran yang tumbuh kemudian (Coote, 2020).
Di situlah daya hidup Robin Hood: ia selalu lahir dari jarak antara legenda dan kebutuhan sosial. Ketika masyarakat membutuhkan pahlawan yang melawan ketidakadilan, Robin berubah menjadi ikon keadilan distributif. Ketika sinema membutuhkan petualangan, ia menjadi tubuh yang gesit, romantik, dan mudah dicintai. Ketika zaman mulai curiga kepada kepahlawanan, Robin menjadi tokoh yang dicurigai pula. Ia tak lagi cukup dinilai dari panah yang tepat sasaran, sebab panah itu juga pernah menembus tubuh manusia. Pertanyaan moralnya bergeser: apakah seorang pahlawan boleh terus disebut pahlawan jika jalan menuju kebaikan dilalui dengan kekerasan?
Film-film Robin Hood memperlihatkan perubahan itu dengan jelas. The Adventures of Robin Hood (1938) menjadikan Robin sebagai pahlawan cerah: berani, jenaka, tangkas, dan mudah diletakkan dalam dunia moral yang terang. Disney melalui Robin Hood (1973) mengubahnya menjadi fabel keluarga yang hangat. Robin Hood: Prince of Thieves (1991) membawa legenda itu ke dalam panggung blockbuster yang romantik dan heroik. Ridley Scott melalui Robin Hood (2010) memberi warna lebih gelap, politis, dan historis. Versi Otto Bathurst pada 2018 menempatkan Robin dalam imajinasi perang modern, dengan gema konflik kontemporer. Coote mencatat bahwa pengaruh Perang Salib dan citra prajurit kembali muncul dalam berbagai versi panggung, televisi, dan film, dari tradisi abad ke-19 sampai Prince of Thieves dan versi 2018 (Coote, 2020).
Secara filosofis, perubahan versi dalam film itu membuat Robin Hood makin menarik. Ia bukan sekadar tokoh cerita rakyat Inggris. Ia adalah cara budaya populer menguji hubungan antara hukum dan keadilan, kekerasan dan pembebasan, mitos dan sejarah, keberanian dan rasa bersalah. David Crook (2020) menunjukkan betapa sulitnya menempatkan Robin Hood sebagai tokoh historis yang tunggal. Dalam perdebatan tentang legenda dan kenyataan, Robin Hood berada di antara kemungkinan adanya figur nyata, perluasan nama seorang penjahat, serta proses sastra dan budaya yang membentuknya sebagai legenda.
Crook (2020) menempatkan pencarian โRobin Hood asliโ dalam hubungan rumit antara arsip hukum, tradisi lisan, kronik, nama-nama buronan, dan cerita yang baru ditulis jauh setelah masa yang diduga sebagai asal legenda itu. Posisi ini penting karena esai tentang Robin Hood tak perlu memaksakan kepastian historis. Yang lebih penting ialah membaca cara legenda bekerja: ia membuat masyarakat percaya bahwa keadilan masih mungkin hadir dari tempat yang berada di luar pusat kuasa.
Di titik itu, The Death of Robin Hood (2026) menjadi penting. Film ini seperti datang untuk mengadili semua warisan tersebut. Film ini ditulis dan disutradarai Michael Sarnoski, dibintangi Hugh Jackman, Jodie Comer, Bill Skarsgรฅrd, Murray Bartlett, dan Noah Jupe. Beberapa sinopsis filmnya menyebut Robin Hood sebagai sosok yang bergulat dengan masa lalunya setelah hidup dalam kejahatan dan pembunuhan; ia terluka parah dalam pertempuran yang ia kira menjadi pertempuran terakhirnya, lalu berada dalam perawatan seorang perempuan misterius yang memberinya kemungkinan keselamatan. Rotten Tomatoes mencatat film ini bergenre petualangan-drama, berdurasi 2 jam 3 menit, dan dirilis luas di bioskop Amerika Serikat pada 19 Juni 2026 (Rotten Tomatoes, 2026).
Hugh Jackman menjadi pilihan yang menarik karena tubuh sinematiknya sudah menyimpan memori kepahlawanan yang terluka. Ia dikenal luas melalui Wolverine, terutama dalam Logan, sebagai figur kuat yang menua, letih, terluka, dan seolah dikejar oleh kekerasan yang lama melekat pada tubuhnya. Ketika Jackman memerankan Robin Hood, penonton membawa ingatan itu ke ruang gelap bioskop. Ia bukan wajah polos pahlawan muda. Ia membawa aura manusia yang sudah terlalu lama bertahan. Robin Hood dalam dirinya menjadi tubuh yang telah melewati banyak pertempuran, banyak pembenaran moral, dan banyak cerita yang mungkin selama ini menutup darah di bawahnya.
Kata kunci terbesar film ini ialah pengadilan masa lalu. Pengadilan itu bukan ruang sidang dengan hakim, jaksa, dan palu vonis. Pengadilan itu terjadi di dalam tubuh, ingatan, luka, dan tatapan orang lain. Masa lalu hadir sebagai musuh yang lebih keras daripada sheriff. Ia datang melalui cerita yang dipercaya orang banyak, korban yang dilupakan, tubuh yang rusak, dan kesempatan terakhir untuk mengakui sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh legenda. Dalam versi semacam ini, Robin Hood tak lagi dikejar semata-mata oleh kekuasaan. Ia dikejar oleh akibat dari tindakannya sendiri.
Di sinilah film menjadi filsafat. Freeland dan Wartenberg menegaskan bahwa filsafat memiliki cara khas untuk membaca film, terutama ketika film memunculkan soal representasi, pengetahuan, objektivitas, perspektif, relasi sosial, dan nilai (Freeland dan Wartenberg, 1995). Philosophy and Film: Bridging Divides juga menempatkan perdebatan โfilm sebagai filsafatโ sebagai salah satu medan penting kajian film; buku itu memuat pembahasan tentang nilai filosofis film, pengalaman sinematik, etika film, dan hubungan antara tradisi analitik serta kontinental (Rawls, Neiva dan Gouveia, 2019). Dalam kerangka itu, The Death of Robin Hood dapat dibaca sebagai film yang mengajukan pertanyaan etis melalui tubuh tua, luka, kesunyian, kekerasan, dan kemungkinan penebusan.
Sehubungan dengan itu, film dapat dipahami sebagai bagian dari percakapan filsafat tentang persepsi, kebenaran, bahasa, pikiran, moralitas, politik, seni, dan pengalaman manusia (Carroll, Di Summa dan Loht, 2019). Kerangka itu membuat pembacaan terhadap The Death of Robin Hood menjadi lebih tajam. Film ini tidak hanya mengisahkan Robin yang sekarat. Film ini menguji cara penonton menerima kebenaran moral yang tidak nyaman: pahlawan yang selama ini dicintai mungkin juga memiliki korban yang selama ini tak diberi tempat dalam cerita.
Pertanyaan The Death of Robin Hood bukan โapakah Robin Hood benar atau salah?โ semata. Pertanyaannya lebih berat: apakah kebaikan publik dapat menghapus keburukan personal? Apakah legenda mampu mengampuni kekerasan? Apakah penonton bersedia melepas pahlawan masa kecilnya ketika film menunjukkan bahwa pahlawan itu juga mungkin seorang pembunuh? Ulasan Benjamin Lee di The Guardian membaca film ini sebagai kisah revisionis yang mengubah pahlawan rakyat menjadi kriminal egoistis, dengan Robin yang mengambil dari siapa pun dan menyimpannya untuk dirinya sendiri; ulasan itu juga menekankan nada film yang berpusat pada rasa bersalah, penyesalan, dan akhir hidup seorang kriminal (Lee, 2026).
Dari sisi legenda, pilihan semacam ini terasa radikal. Robin Hood biasanya dipakai untuk menenangkan imajinasi moral: ada yang jahat, ada yang baik; ada penguasa lalim, ada pembela rakyat; ada hutan sebagai ruang bebas, ada istana sebagai ruang kuasa. The Death of Robin Hood merusak kenyamanan itu. Hutan tak lagi sekadar tempat kebebasan. Hutan menjadi tempat persembunyian, tempat dendam, tempat orang-orang menyimpan kebenaran yang gagal masuk ke cerita resmi. Robin tak lagi berdiri di luar kejahatan untuk menghukumnya. Ia menjadi bagian dari dunia kekerasan yang dulu ia lawan.
Di titik ini, legenda Robin Hood memasuki tahap pascakepahlawanan. Istilah itu penting karena film ini tak menghapus Robin Hood sebagai pahlawan. Ia justru menanyakan syarat moral kepahlawanan. Pahlawan sejati mungkin bukan orang yang selalu menang, melainkan orang yang akhirnya berani melihat dirinya tanpa hiasan legenda. Panah terakhir Robin Hood bukan lagi anak panah yang menandai kubur, seperti dalam tradisi kematian Robin Hood. Panah terakhir itu adalah pengakuan: bahwa masa lalu selalu menagih bahasa yang lebih jujur daripada mitos.
Hugh Jackman memberi tubuh pada pengakuan itu. Ia membuat Robin Hood tampak seperti manusia yang terlalu lama dipercaya orang lain, lalu terlambat mempercayai kebenaran tentang dirinya sendiri. Di layar, wajah tua bukan sekadar penanda usia. Wajah itu menjadi arsip. Kerut, luka, napas berat, dan gerak tubuh yang melambat menggantikan pidato heroik. Pada tubuh semacam itu, sejarah tak lagi tertulis sebagai kemenangan, tetapi sebagai sisa. Sisa itulah yang mengubah film ini dari petualangan menjadi meditasi.
Pengadilan masa lalu juga mengadili penonton. Kita selama ini mencintai Robin Hood karena ia memberi bentuk sederhana kepada hasrat keadilan. Ia mengambil dari yang kuat untuk menolong yang lemah. Rumusan itu indah, cepat dipahami, mudah diwariskan. Film Sarnoski memaksa kita bertanya: mengapa kita begitu ingin mempercayai kisah itu? Apakah karena kita sungguh peduli kepada keadilan, atau karena kita membutuhkan tokoh yang membuat kekerasan tampak mulia? Pertanyaan ini membuat film Robin Hood terbaru bergerak dari dongeng politik menuju etika ingatan.
Akhirnya, Robin Hood tetap hidup justru karena ia dapat mati berkali-kali. Ia mati sebagai pahlawan cerah agar lahir sebagai manusia bersalah. Ia mati sebagai ikon anak-anak agar lahir sebagai figur tragis. Ia mati sebagai jawaban agar lahir sebagai pertanyaan. The Death of Robin Hood mengajukan satu perkara paling tajam: masa lalu tak pernah benar-benar selesai hanya karena legenda telah menyanyikannya dengan nada yang indah.
Robin Hood versi Hugh Jackman membawa kita kepada kesimpulan yang muram, sekaligus perlu: setiap pahlawan memiliki pengadilan yang menunggu. Ada yang diadili oleh sejarah. Ada yang diadili oleh korban. Ada yang diadili oleh tubuhnya sendiri. Ada pula yang diadili oleh penonton yang akhirnya sadar bahwa legenda sering memberi cahaya dengan cara menyembunyikan bayangan. Dalam film ini, bayangan itu kembali. Ia berdiri di depan Robin Hood, lalu bertanya pelan: setelah semua orang menyebutmu pahlawan, apakah engkau sanggup menyebut dirimu manusia?
Daftar Pustaka
Carroll, Noรซl, Laura T. Di Summa, dan Shawn Loht, ed. 2019. The Palgrave Handbook of the Philosophy of Film and Motion Pictures. Cham: Palgrave Macmillan.
Coote, Lesley. 2020. Storyworlds of Robin Hood: The Origins of a Medieval Outlaw. London: Reaktion Books.
Crook, David. 2020. Robin Hood: Legend and Reality. Woodbridge: The Boydell Press.
Freeland, Cynthia A. dan Thomas E. Wartenberg, ed. 1995. Philosophy and Film. London dan New York: Routledge.
Lee, Benjamin. 2026. โThe Death of Robin Hood Review: Hugh Jackman Darkens a Heroic Tale in Grim Dramaโ. The Guardian, 16 Juni. Tersedia pada: https://www.theguardian.com/film/2026/jun/16/the-death-of-robin-hood-review-hugh-jackman (Diakses 4 Juli 2026).
Rawls, Christina, Diana Neiva, dan Steven S. Gouveia, ed. 2019. Philosophy and Film: Bridging Divides. New York: Routledge. Rotten Tomatoes. 2026. The Death of Robin Hood. Beverly Hills: Fandango Media. Tersedia pada: https://www.rottentomatoes.com/m/the_death_of_robin_hood (Diakses 4 Juli 2026).

Tinggalkan Balasan